Sabtu, 06 September 2025

MENGAJAR HANYA PEKERJAAN, MENDIDIK ADALAH PANGGILAN KEHIDUPAN

 Ruang Ide,

Serius deh, sepintar apa pun kita bikin RPP, secanggih apa pun metode yang kita bawa dari seminar, kalau anak di kelas malah molor, ngobrol sendiri, atau ngelihatin HP sambil cengar-cengir, itu tandanya ada yang keliru. Bukan di mereka, tapi di kita.

Kenapa? Karena kita cuma jadi guru pengajar. Datang, buka buku, kasih tugas, ngasih nilai. Udah. Kadang malah mirip guru les keliling—bedanya, kita digaji negara.

Padahal anak-anak itu nggak cuma butuh otaknya dipenuhi materi. Mereka butuh hatinya disentuh. Butuh contoh nyata gimana caranya hidup dengan benar. Mereka butuh sosok yang bisa mereka segani, yang kalau ngomong nggak cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan.

Baca Jua: ketika-ilmu menjadi jalan mengenal "Dia"


Nah, itu bedanya dengan guru pendidik.
Guru pendidik itu nggak sekadar ngejar target kurikulum. Dia ngajarin anak buat kenal Tuhannya, sayang sama orang tuanya, hormat pada gurunya, dan peduli sama sekitar. Dia bisa bikin anak merasa “aku harus berubah” bukan karena takut nilai jelek, tapi karena sadar ini buat masa depannya.

Kalau kita cuma ngajar, anak paling inget kita sebatas, “Oh iya, Bu itu pernah ngasih PR banyak banget.” Tapi kalau kita mendidik, anak bakal inget seumur hidup, “Pak itu pernah ngajarin aku jadi manusia yang lebih baik.”

Mau sehat dengan cara murah :Susu Kambing Etawa,tanpa gula sintetis

Jujur aja, pilih yang mana: mau dikenal sebagai tukang ngasih soal, atau jadi orang yang dikenang karena menyalakan arah hidup murid?

Mengajar itu pekerjaan.
Mendidik itu panggilan jiwa.

Pak J

Kamis, 04 September 2025

KETIKA ILMU MENJADI JALAN MENGENAL " DIA"

Mau sehat dengan cara Murah .hed goat susu sehat
Surabaya, 5 Sept 2025 Ruang ide.
 

Aku selalu percaya, mendidik bukanlah sekadar membuat muridku cerdas, apalagi hanya pintar berhitung atau pandai menjawab soal ujian. Bukan itu yang aku cari. Tujuan utamaku jauh lebih jauh dari sekadar angka rapor dan nilai.

Aku ingin mengajar karena aku ingin menyampaikan kebaikan. Aku ingin menanamkan akhlak yang benar, kebenaran yang Allah perintahkan. Aku ingin menjadi jalan, sekecil apa pun, agar muridku mengenal "DIA" mengenal Tuhannya. Jika melalui pelajaran sederhana yang aku sampaikan, mereka belajar untuk jujur, taat pada orang tua, hormat kepada guru, peduli pada sesama, menjaga diri, mencintai lingkungannya, dan berbuat baik kepada bangsanya-maka itu sudah lebih dari cukup bagiku.

 Baca juga :Jangan rusak warisan sejarah bangsamu


Aku tidak butuh menjadi guru yang populer, tidak menginginkan jabatan, dan memburu sertifikasi dari negaraku. dan aku juga  tidak perlu muridku mengingat namaku selamanya. Aku hanya ingin mereka mengingat Allah, mengenal-Nya, dan menjalani hidup dengan hati yang bersih. Sebab apa gunanya ilmu yang tinggi, jika hati tetap rendah dan hina? Apa artinya pintar, jika tidak berbuat benar?

Bagiku, mendidik bukan sekadar memindahkan pengetahuan. Mendidik adalah menyalakan cahaya di hati anak-anak, agar cahaya itu menuntun langkah mereka, bahkan ketika mereka sudah tidak lagi duduk di hadapanku.

Baca Juga: Negeri cerdas mengapa harus dipimpin oleh .....


Dan bila suatu hari mereka tumbuh menjadi manusia yang penuh empati, yang peduli kepada dirinya, keluarganya, sesamanya, dan Tuhannya-maka di situlah letak kebahagiaan seorang guru sejati.


Pak J

Rabu, 03 September 2025

NEGERI CERDAS, MENGAPA HARUS DIPIMPIN OLEH YANG ABAI PADA ETIKA?

Ruang Ide
Indonesia dikenal sebagai negeri dengan sumber daya manusia melimpah. Gudangnya orang-orang cerdas, berintegritas, dan berprestasi. Dari desa hingga kota, kita melihat putra-putri bangsa yang memiliki kapasitas kepemimpinan, dedikasi, dan keikhlasan dalam mengabdi. Namun ironis, ketika momentum pemilihan presiden datang, yang muncul ke permukaan justru figur-figur yang dituding publik penuh kontroversi: minim kapasitas, gemar beretorika, bahkan dituding menghalalkan segala cara demi meraih kursi kekuasaan.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar:
Mengapa bangsa yang kaya akan orang cerdas, harus rela dipimpin oleh mereka yang abai pada etika?


Kita tentu tidak menolak proses demokrasi. Pemilu adalah jalan sah bagi rakyat memilih pemimpin. Namun demokrasi yang sehat menuntut penyelenggara negara, termasuk KPU, agar benar-benar menjaga marwah keadilan. Ketika rakyat melihat calon pemimpin dengan rekam jejak rapuh tetap diloloskan, kecurigaan pun lahir: apakah hukum, aturan, dan etika benar-benar berdiri di atas keadilan, ataukah sekadar alat legitimasi bagi ambisi politik segelintir orang?

Bangsa ini tidak kekurangan calon pemimpin berkualitas. Para akademisi, tokoh masyarakat, praktisi, dan bahkan anak-anak muda telah menunjukkan kapasitas luar biasa. Tetapi sayangnya, dalam politik kita, kecerdasan dan integritas sering kalah oleh intrik, pencitraan, dan kekuasaan uang. Maka publik wajar bertanya: apakah pemimpin bangsa ini ditentukan oleh kualitas nyata, atau hanya oleh kelicikan strategi dan keberpihakan lembaga tertentu?

Lebih jauh, hari ini publik juga disuguhi kabar bahwa seorang warga berani menggugat pemimpin tersebut hingga Rp125 triliun, sekaligus menuntut agar jabatan yang diraihnya saat ini dinyatakan tidak sah. Gugatan ini menjadi simbol bahwa nurani rakyat masih hidup, dan peradilan diharapkan benar-benar berdiri sebagai benteng terakhir demokrasi.

Rakyat berhak mendapatkan pemimpin yang jujur, cerdas, dan berpihak pada kepentingan umum, bukan sekadar pandai mengatur narasi. Jika yang dihadirkan kepada rakyat hanyalah kandidat yang dipersepsikan sebagai “pembohong” atau “menghalalkan segala cara,” itu bukan sekadar pelecehan terhadap demokrasi, melainkan juga penghinaan terhadap kecerdasan bangsa.


Pemimpin bukan sekadar simbol, ia adalah penentu arah bangsa. Maka wajar bila publik menolak untuk dipimpin oleh figur yang tak layak secara moral maupun intelektual. KPU, partai politik, dan elite bangsa perlu mendengar suara rakyat: jangan paksa negeri yang penuh dengan orang cerdas untuk tunduk pada pilihan yang membodohkan.



Pak J

SUBHAN GUGAT GIBRAN RP125 TRILIUN: HAKIM, JANGAN CUMA JADI TUKANG KETOK!

 

Surabaya, Ruang Ide
Drama politik negeri +62 makin seru. Kali ini bukan soal artis masuk parpol, tapi soal Subhan, warga biasa  dari jakarta barat yang berani luar biasa. Ia resmi menggugat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan KPU di PN Jakpus. Nilai gugatannya bikin netizen ngecek kalkulator: Rp125 triliun plus Rp10 juta!

Kalau duit segitu cair, tiap warga bisa dapet kompensasi cukup buat beli bakso tiap hari sampai pensiun. Bahkan pedagang cilok pun mungkin bisa upgrade gerobak jadi Alphard.

Subhan menilai Gibran dan KPU telah melakukan perbuatan melawan hukum, karena syarat pendaftaran cawapres dulu katanya nggak komplit, tapi entah kenapa tetap lolos. Singkatnya: “aturan kok bisa jadi odading Mang Oleh, bebas tafsir?”

Lebih berani lagi, Subhan minta hakim menyatakan status Gibran sebagai Wapres tidak sah. Ini bukan sekadar gugatan, tapi plot twist terbesar sejak sinetron “Tersanjung”.

Tak cukup sampai di situ, Subhan juga minta denda harian Rp100 juta kalau putusan nggak dilaksanakan. Bayangin, telat sehari aja udah cukup buat beli vila di Puncak.

Sekarang tinggal majelis hakim: mau dicatat sejarah sebagai penjaga keadilan, atau cuma jadi cameo yang nongol 3 detik buat ketok palu? Rakyat butuh hakim yang berani, bukan yang takut disemprot “atasan”.

Kita semua tahu, Subhan mungkin sendirian di ruang sidang, tapi dukungan rakyat ada di belakangnya. Gugatan ini ibarat lampu senter kecil di tengah PLN byar-pet: bikin kita melek, bahwa rakyat kecil pun masih bisa menggugat raksasa.

Jadi, pesan untuk para hakim: jangan pura-pura ngantuk saat sidang. Ingat, keadilan itu bukan untuk dipajang di ruang tamu, tapi untuk ditegakkan. Kalau tidak, ya siap-siap sejarah menulis kalian sebagai “pemain pengganti yang gagal bikin gol”.


Pak J

Senin, 01 September 2025

MEMBAKAR GEDUNG, MEMBUNUH, MENJARAH, ADALAH HARAM

 Opini

Oleh : Sudianto, S.Pd.I

Ruang ide.

Indonesia dalam peringatan 80 tahun kemerdekaannya telah mencatat sejarah kelam. Bagaimana tidak, hampir terjadi disetiap 
 daerah di negeri ini gelombang aksi menuntut pembubaran DPR yang dinilai sudah tidak aspiratif dan terkesan memupuk kekayaan pribadi serta membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat. 

Ditengah himpitan ekonomi yang dirasakan oleh rakyat negeri ini, tekanan pajak yang tinggi, naiknya berbagai kebutuhan pokok, ternyata DPR yang katanya wakil rakyat malah menaikan tunjangannya dan bersorak sorai juga berjoget ria tanpa merasa medzolimi rakyat yang hidup sengsara. 

Dari sinilah ungkapan kemarahan rakyat menjelma menjadi kekuatan liar yang tak terkendali. 


Aksi massa yang tidak terima dengan berbagai kebijakan negara kini menyasar keberbagai gedung atau fasilitas negara. Tidak hanya itu penjarahan pun terjadi pada pejabat yang dinilai telah menghina rakyat kecil melalui statementnya. 

Akibat dari ini, gedung DPRD Makasar terbakar, gedung DPRD NTB terbakar, gedung DPRD Kediri terbakar, gedung negara Grahadi Surabaya terbakar, gedung SIM dan SPKT Mapolda DIY terbakar, Wisma MPR di Bandung terbakar, dan masih banyak lagi. Tidak hanya membakar, bahkan mereka pun menjarah barang-barang baik milik pejabat maupun fasilitas negara. 

Selain gedung dan penjarahan barang, nyawapun menjadi korban kebringasan massa. Banyak korban jiwa, luka-luka, baik dari pihak masyarakat maupun pejabat atau kepolisian negara. Mengapa ini terjadi ditengah hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan RI ???

PANDANGAN ISLAM

 lalu bagaimana pandangan islam terhadap peristiwa di atas?


Sungguh tidak mungkin muncul asap tanpa api, artinya tidak ada masalah tanpa sebab. Ada beberapa sebab yang memicu aksi massa diantaranya adalah tunjangan DPR/MPR yang sangat fantastis hingga 50 juta perbulan yang dianggap sangat menyimpang dari kondisi masyarakat hari ini. 

Kematian Affan Kurniawan akibat dilindas oleh kendaraan brimob yang merupakan symbol kekuatan negara yang akhirnya viral. 

Krisis ekonomi dan ketidakadilan turut mewarnai sebab marahnya massa. Pajak dinaikan sementara tunjang pejabat dan fasilitasnya ditingkatkan sementara rakyat menjerit kelaparan. Rasional anggaran dan ketimpangan social juga naiknya biaya kuliah sehingga menyeret serikat pekerja dan mahasiswa dalam unjukrasa. Ditambah mudahnya komunikasi melalui media social yang cepat diterima. 

Dalam pandangan syariah islam, demontrasi padasarnya adalah cara menyampaikan aspirasi. Hukum asalnya adalah boleh atau mubah selama memenuhi syarat yaitu damai, tidak merusak, dan bertujuan menegakkan keadilan dan kebenaran. 

Hal ini pernah terjadi pada masa pemerintahan Kholifah Usman Bin Affan. Pada saat itu masyarakat Mesir, Kufah, dan Basrah datang ke Madinah untuk menyampaikan aspirasinya. Mereka menuntut agar Kholifah Usman mencopot dan mengganti para Gubernur/Pejabat yang dianggap dzalim atau tidak adil. Mereka pun menganggap banyak kebijakan yang menguntungkan kerabat dekat Kholifah. 

Usman pun menerima merekan dengan lembut dan menerima aspirasi mereka. Dari sini kita bisa mengambil hikmah bahwa menyampaikan aspirasi ke kepala negara/pejabat adalah sah-sah saja dalam islam. 

Islam melarang secara tegas jika dalam demontrasi ada anarkis atau membuat kerusakan. Allah SWT. Berfirman QS. Al-A’raf 56 “Dan janganlahkamu membuat kerusakan di bumi ini setelah Allah memperbaikinya …” Nabi Muhammad saw juga bersabda “Sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah haram atas kalian (untuk dilanggar) sebagaimana sucinya hari ini, dinegeri ini ….” Artinya demontrasi dengan membakar gedung, menjarah, atau merusak fasilitas umum adalah haram. 

Dalam adab berjihad juga terdapat hadist yang melarang merusak gedung/bangunan, menebang pohon, dan memunuh tanpa hak. Rasulullah saw berpesan kepada pasukan jihad “berangkalah kalian dengan nama Allah swt, dan janganlah membunuh orang tua, anak-anak, wanita, dan janganlah menebang pohon” (HR.Abu Dawud no. 2614). “ janggalah kalian membakar pohon kurma, jangan menenggelamkannya dengan air, jangan merusak bangunan, dan jangan membunuh hewan ternak kecuali untuk dimakan” (HR. Malik dalam A-Muwaththa’)

Kalau dalam perang saja yang itu jelas musuhnya adalah orang-orang kafir, islam telah jelas melarang merusak sembarangan, apalagi dalam keadaan damai juga dengan saudara islam sendiri tentu hal ini jauh lebih haram lagi. Jadi jelaslah bahwa aktifitas demontrasi tidak dilarang dalam islam karena itu adalah cara menyampaikan aspirasi, tapi demontrasi yang anarkis kemudian merusak, membakar, menjarah baik milik perorangan/pribadi maupun milik umum atau negara adalah haram. 


Wahai saudaraku…, apa yang kalian lakukan hari ini dengan membakar gedung-gedung, merusak fasilitas umum, menjarah harta pejabat atau harta negara adalah bertentangan dengan syariat islam. Allah swt tidak akan pernah ridho dengan cara-cara ini, jika Allah tidak ridho maka keberkahan akan dicabut. Artinya tidak akan membuahkan kebaikan dan kemaslahatan untuk kita dan negera kita. Ingatlah hanya dengan islam kita mulia, hanya dengan islam kita bahagia, dan hanya dengan islam kita akan masuk syurga. Marilah kita tunduk dan patuh terhadap syariat islam, artinya menegakkan islam secara kaffah adalah sebuah kewajiban. Hanya dengan itu hidup akan mulia semat dunia dan akhirat.

JANGAN RUSAK WARISAN SEJARAH, JANGAN JADI PENGKHIANAT BANGSA

Demo adalah hak rakyat. Ia lahir sebagai suara nurani untuk mengingatkan pemerintah agar tetap berada di jalur yang benar. Namun, ketika demo berubah menjadi tindakan anarkis, apalagi merusak dan mencuri benda bersejarah, itu bukan lagi aspirasi-itu pengkhianatan.

Situs sejarah, candi, prasasti, arca, maupun peninggalan purbakala bukan sekadar batu tua atau benda mati. Ia adalah saksi bisu perjalanan bangsa ini. Dari sana kita tahu bahwa leluhur kita pernah berjuang, membangun, berperadaban, dan menitipkan pesan: Jaga agar kalian tidak hilang arah. Maka, merusak atau mencuri situs sejarah sama artinya dengan memutuskan akar bangsa sendiri.

Apakah anda sadar? Dengan merusak dan menjarah, anda tidak hanya menghina pemerintah yang anda benci, tapi juga menghancurkan warisan orang tua anda sendiri. Anda telah menghalangi anak cucu kita untuk belajar dari jejak masa lalu. Anda menutup pintu pengetahuan mereka, hanya karena nafsu, amarah, dan keserakahan anda hari ini.

Lalu apa hubungannya kekecewaan anda kepada pemimpin dengan mencuri arca, merusak prasasti, atau membakar situs sejarah? Itu bukan perjuangan, itu perampasan. Itu bukan keberanian, itu pengkhianatan. Anda bukan sedang melawan ketidakadilan, tapi sedang melukai bangsa anda sendiri.


Kembalikanlah. Hentikan tangan anda yang merampas warisan leluhur. Belajarlah membedakan antara aspirasi dengan anarki, antara perjuangan dengan perusakan. Ingatlah, sejarah tidak akan pernah diam. Setiap tindakan anda hari ini akan dicatat, dan generasi mendatang akan bertanya: Mengapa mereka tega merusak peninggalan yang seharusnya jadi pelajaran kami?”

Jika anda masih punya hati, masih mengaku sebagai bagian dari bangsa ini, maka kembalikan apa yang anda ambil. Jaga apa yang tersisa. Jangan wariskan kehinaan kepada anak cucu anda. Wariskan kebanggaan, dengan menjaga warisan sejarah yang membuat kita tetap ada sebagai bangsa yang bermartabat.


Pak J.
praktisi/ pengajar sejarah SMK Sunan Giri Gresik Jatim

Minggu, 31 Agustus 2025

DPR: MULUTNYA NYAKITIN, RAKYATNYA NGAMUK, NEGARA JADI SINETRON”

Kadang saya bingung, DPR itu wakil rakyat apa stand-up comedy?

Soalnya kalau ngomong, suka nyelekit. mereka asal  nyeplos saja kayak anak gembala yang ngoceh dengan teman gembala lain, “orang demo itu tolol.”
Lho, pak… bukannya yang tolol itu listrik yang suka mati pas lagi nonton bola? Kok rakyat disamain sama setrikaan korslet?

Ya wajar rakyat sakit hati. Bayar pajak rajin, bensin naik diem, harga cabai naik cuma bisa misuh, eh giliran ngomong malah dihina. Akhirnya rakyat pun keluar ke jalan. Demo rame-rame. Tadinya niatnya nobar kekecewaan, lama-lama kayak konvoi mantenan: bendera berkibar, teriakan menggema.

Masalahnya, emosi nggak bisa dikendalikan. Ada yang nyerbu rumah anggota DPR. Kulkas diangkut, panci dicolong, TV ikut jalan. Lha ini demo apa arisan barang bekas?
Lucu sih kalau diceritain, tapi serem kalau kejadian.

Nah, di sini pertanyaan muncul: apakah menjarah itu bagian dari demokrasi?
Jawabannya jelas: bukan!
Menjarah itu sama sekali nggak ada di kamus demokrasi. Demokrasi itu menyampaikan suara dengan damai, lewat jalur hukum, lewat pemilu, lewat kritik. Kalau menjarah disebut demokrasi, berarti maling ayam di kampung juga bisa daftar jadi pahlawan demokrasi dong?


Tapi mari jujur sebentar. Kenapa rakyat sampai segitunya? Karena ada perasaan mandek. UU perampasan aset koruptor, yang udah lama ditunggu-tunggu, nggak kunjung disahkan. Rakyat jadi mikir: “Kalau koruptor bisa ngambil duit negara, kenapa kita nggak boleh ambil kulkas DPR?”
Logika yang ngawur, tapi muncul karena keadilan terasa macet kayak jalan tol mudik.

Lalu gimana solusinya biar rakyat nggak salah jalur?
Ya, protes boleh, tapi jangan pakai cara barbar.

  • Demo damai? Bisa. Teriak-teriak sambil jual cilok biar balik modal.

  • Petisi online? Bisa. Biar ada arsip resmi kekecewaan rakyat.

  • Meme politik? Wajib! Bikin DPR jadi bahan ketawa biar mereka malu sendiri.

  • Pemilu? Nah, ini jurus pamungkas. Balas dendam paling halus: jangan pilih lagi yang suka nyakitin rakyat.

Karena menjarah itu cuma bikin DPR senyum sinis: “Tuh kan, bener kata saya, rakyat tolol.”
Padahal rakyat bisa bales dengan cara yang bikin DPR bengong: pinter, kompak, dan sabar sampai waktunya tiba.

MARAH ITU WAJAR, TAPI JANGAN SAMPAI SALAH SASARAN

 Demo dan Omongan Arogan

Rakyat itu sebenarnya sabar, lho. Sabar ngantri BLT, sabar bayar pajak, sabar lihat jalan bolong nggak ditambal-tambal. Tapi kesabaran itu ada batasnya. Dan biasanya, yang bikin rakyat meledak itu bukan cuma kebijakan ngawur, tapi mulut arogan anggota dewan yang suka ngoceh sembarangan.

Bayangin aja, rakyat lagi susah mikir harga beras naik, tiba-tiba ada anggota dewan bilang, “Orang demo itu tolol.” Lah, siapa yang nggak panas kupingnya? Kayak ditampar pakai sandal jepit di depan umum.

Belum cukup, ada lagi yang joget-joget di gedung DPR pas dengar kabar tunjangan naik. Jogetnya heboh, rakyat nontonnya migren. Lha wong rakyat disuruh irit minyak goreng, dia malah asyik goyang sambil terima tambahan gaji.

Jadi wajar kalau rakyat ngamuk, demo besar-besaran. Tapi, wahai rakyatku yang budiman, jangan sampai kemarahan itu salah alamat. Jangan langsung bakar gedung DPR atau kantor kementerian. Percuma, bro! Gedung yang kamu bakar pasti nanti dibangun lagi.

Dan tahu siapa yang dapat proyek pembangunan itu?
Apakah rakyat? Jelas tidak.
Apakah tukang demo? Apalagi.
Yang dapat ya mereka-mereka juga, pejabat yang tadi kamu demo. Jadi intinya: rakyat marah → gedung dibakar → gedung dibangun lagi → pejabat kaya → rakyat tetap melarat. Ironi bukan main.

Maka, kalau mau marah, marahlah dengan cerdas. Jangan bikin pejabat senyum-senyum karena dapat proyek baru dari gedung yang kamu bakar. Karena ujung-ujungnya, rakyat cuma jadi pelengkap penderita, sementara mereka tetap jadi bintang utama di panggung sandiwara negeri ini.

Rabu, 27 Agustus 2025

KERIKAN WARISAN BUDAYA JAWA YANG TETAP HIDUP

ruang ide-Meski kian hari ilmu medis semakin berkembang,tapi budaya kerikan masih tetap exis dan uniqnya kerikan ini bukan sekadar cara mengatasi masuk angin. Bagi masyarakat Jawa, kerikan adalah warisan budaya yang menyimpan sejarah panjang, sekaligus kearifan lokal yang masih dipraktikkan hingga hari ini.

Walaupun dalam catatan antropologi kesehatan, istilah “masuk angin” memang tidak dikenal dalam dunia medis, tapi di masyarakat Jawa ia diyakini sebagai kondisi ketika tubuh kemasukan unsur dingin atau angin. Salah satu cara paling populer untuk meredakannya adalah dengan kerokan, atau yang dulu dikenal sebagai kerikan. Prosesnya sederhana: minyak atau balsem dioleskan ke kulit, lalu digores dengan benda tumpul seperti koin atau bawang merah. Hasilnya muncul guratan merah yang dipercaya sebagai tanda angin keluar dari tubuh.

Dari Keraton Hingga Warung Kopi


Tradisi ini diyakini sudah ada sejak masa kerajaan kuno di Jawa. Relief di Candi Borobudur menggambarkan adegan pengobatan tradisional yang menggambarkan pengobatan dengan kerikan, menjadi bukti bahwa teknik ini sudah dikenal sejak abad ke-8. Bahkan ada sebutan “gobang” (uang logam kuno) yang dulu sering dipakai untuk alat kerikan. Seiring waktu, gobang digantikan dengan koin, atau bahkan bawang merah untuk bayi.

Menariknya, praktik serupa juga ada di negara lain dengan nama berbeda:  di Vietnam dikenal dengan Cao Gio, dan di Kamboja disebut Goh Kyol. Namun, di Jawa, kerikan berkembang dengan filosofi khas: tubuh dianggap sebagai miniatur jagat raya. Ketidakseimbangan dalam tubuh-misalnya terlalu banyak “angin”-perlu diseimbangkan kembali lewat kerikan.

Antara Budaya dan Medis

Orang Jawa percaya bahwa kerikan bisa menyembuhkan badan yang terasa berat, mengurangi gejala panas tubuh, dan membuat tubuh lebih ringan. Rasa hangat dari minyak dan gesekan benda tumpul membuat tubuh berkeringat, sehingga panas berangsur turun.

Penelitian modern pun memberi penjelasan:

  • Kerokan melancarkan sirkulasi darah dan membantu mengurangi nyeri otot akibat penumpukan asam laktat.

  • Menstimulasi tubuh untuk melepaskan endorfin, hormon yang membuat tubuh lebih rileks dan nyaman.

  • Memicu reaksi imun alami yang membantu tubuh melawan peradangan ringan.

Guru Besar Antropologi Kesehatan UGM, Prof. Atik Triratnawati, menyebut masuk angin bukan hanya fenomena medis, tapi juga fenomena budaya. Itulah sebabnya kerikan tetap dipraktikkan dan dipercaya sebagai bagian dari identitas masyarakat Jawa.

Dari Rumah ke Dunia

Kini, kerokan bukan hanya milik orang Jawa. Banyak orang luar negeri yang mempraktikkannya dan bahkan mengklaim tradisi ini sebagai milik mereka. Padahal, bagi orang Jawa, kerokan sudah mendarah daging-dari ruang keraton, dapur rumah sederhana, hingga obrolan hangat di warung kopi.

Lebih dari sekadar “pengobatan masuk angin”, kerikan adalah simbol bahwa budaya lokal mampu bertahan, menyatukan keluarga, dan menghadirkan rasa lega baik secara fisik maupun batin.

Dengan begitu, kerokan bukan hanya tradisi kesehatan, tapi juga identitas budaya Jawa yang patut dijaga agar tidak hilang dan tetap diwariskan ke generasi berikutnya.

Senin, 25 Agustus 2025

HIDUP YANG LUPA JALAN PULANG

 



 Di sebuah kota kecil, hiduplah dua sahabat lama: Arif dan Junaedi.

Arif adalah sosok cerdas. Buku-buku menumpuk di kamarnya, pemikirannya dalam, dan ia berhasil mencapai apa yang diinginkan banyak orang. Pekerjaan mapan, rumah mewah, mobil mengkilap. Orang-orang menyapanya penuh hormat. Tapi entah mengapa, wajah Arif sering murung. Malam-malamnya panjang, lampu rumahnya terang, tapi hatinya gelap. Ia bertanya pada dirinya sendiri:
“Apa semua ini? Untuk apa aku bekerja mati-matian? Kenapa tetap ada kosong di dada?”

Di sisi lain, sahabatnya sejak kecil, Junaedi, hidup sederhana. Warung kecilnya hanya cukup untuk makan harian. Hidup pas-pasan, bahkan kadang kekurangan. Ia sering duduk di pinggir jalan, memandang orang-orang sukses dengan iri. Dalam hatinya tumbuh rasa cemburu yang berat.“Kenapa aku begini terus? Kenapa mereka bisa sukses, aku tidak?”

Rasa iri itu kadang menjerumuskannya pada pikiran gelap. Ia sempat ingin merusak usaha orang lain, hanya karena hatinya dipenuhi frustasi.

Kedua sahabat itu berjalan di jalur berbeda-satu berada di puncak keberhasilan dunia, satunya di dasar kesederhanaan. Tapi keduanya merasakan hal yang sama: kosong, asing, dan gelisah.

Hidup mereka hanya berputar di lingkaran keinginan-mengejar sesuatu, lalu bosan ketika tercapai, atau marah ketika gagal.

Pertemuan di Masjid


Suatu sore, setelah sekian lama tak bertemu, Arif dan Junaedi sama-sama duduk di serambi masjid kampung. Keduanya datang dengan hati letih.

Seorang ustadz tua sedang berbicara pelan kepada jamaah kecil. Suaranya tenang, tapi menusuk hati:

“Nak, hidup ini bukan soal kaya atau miskin. Bukan soal cita-cita tinggi atau rendah. Allah sudah jelas berfirman: Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun — Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Kalau hidup hanya dibangun atas keinginan diri sendiri, ujungnya cuma dua: jenuh atau hancur. Tapi kalau dibangun atas agama, ujungnya cuma dua: sabar dan syukur. Saat gagal, ia sabar, itu pahala. Saat berhasil, ia syukur, itu juga pahala.”

Kata-kata itu bagai anak panah. Arif menunduk, dadanya sesak. Junaedi menggigit bibir, matanya panas. Mereka merasa seperti sedang ditunjuk langsung.

Malam Gelap dan Air Mata


Malam itu, Arif pulang ke rumahnya yang mewah. Ia duduk sendirian di ruang tamu, menatap kosong ke dinding.“Selama ini aku hanya mengejar angka, harta, nama besar… tapi kenapa aku merasa asing dengan diriku sendiri? Kenapa aku tidak pernah benar-benar sujud dengan hati tenang?”

Air matanya jatuh untuk pertama kali setelah sekian lama. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, merasa begitu rapuh.

Di warung kecilnya, Junaedi juga termenung. Suara jangkrik terdengar dari sawah belakang rumah. Ia ingat kata-kata ustadz di masjid.“Aku terlalu sibuk iri pada orang lain, padahal aku lupa: rizki datangnya dari Allah, bukan dari dengki. Aku lupa bersyukur, padahal nikmat-Nya tidak pernah berhenti.”

Tangannya bergetar ketika ia meraih sajadah. Malam itu ia shalat Tahajud untuk pertama kali setelah bertahun-tahun. Air matanya jatuh di atas sajadah lusuhnya.

Langkah Kecil Menuju Allah

Hari-hari berikutnya, perlahan mereka berubah.
Arif mulai mendatangi masjid, duduk mendengar kajian, dan membaca Al-Qur’an setelah Subuh. Ia mulai belajar mengembalikan langkahnya pada Allah.

Junaedi juga berubah. Ia tidak lagi mengeluh saat dagangannya sepi. Justru ia mengucap Alhamdulillah saat ada satu pembeli datang. Ia belajar sabar dan syukur, dua hal yang selama ini jauh dari dirinya.

Ujian dan Kesadaran

Namun jalan pulang ke Allah tidak pernah mulus. Suatu hari, usaha besar Arif diguncang masalah. Saham jatuh, rekan bisnisnya mengkhianati, sebagian hartanya lenyap. Dulu mungkin ia akan hancur. Tapi kali ini berbeda. Ia ingat pesan ustadz itu: “Saat gagal, sabarlah. Itu pahala.”

Ia tersenyum pahit, lalu sujud lama sekali.

“Ya Allah… Engkaulah pemilik semua ini. Jika Kau ambil, itu hak-Mu. Jika Kau beri, itu karunia-Mu.”

Di sisi lain, warung Junaedi pernah benar-benar sepi berhari-hari. Perut anak-anaknya menahan lapar. Hatinyapun nyaris goyah. Tapi ia menggenggam kuat kata-kata ustadz: “Sabar, nak, sabar itu pahala.”

Malam itu, ia menatap wajah anak-anaknya yang tidur dengan perut kosong. Air matanya menetes, tapi dari bibirnya keluar kalimat lembut: “Ya Allah… aku ridha. Aku percaya Engkau tidak pernah menelantarkan hamba-Mu.”

Jalan Pulang

Waktu berjalan, keduanya kini sering bertemu di masjid. Tak lagi dengan wajah muram atau iri, tapi dengan senyum tulus. Mereka menemukan sesuatu yang dulu hilang: ketenangan jiwa.

Arif berkata pada Junaedi suatu sore:

“Jun, aku baru benar-benar paham. Hidup ini bukan soal banyaknya harta atau tingginya cita-cita. Hidup ini soal arah. Kalau diarahkan pada keinginan kita sendiri, pasti kosong. Tapi kalau diarahkan sesuai tujuan Allah menciptakan kita, semuanya terasa bermakna.”

Junaedi menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.“Ya, Rif. Hidup ini ternyata sederhana. Sabar ketika sempit, syukur ketika lapang. Itulah kunci bahagia.”

Kesadaran Diri

Angin sore berhembus lembut. Adzan Maghrib berkumandang, memenuhi langit senja. Dua sahabat itu berdiri, melangkah ke dalam masjid.

Di dalam sujudnya, keduanya berbisik dengan hati penuh harap:“Ya Allah, inilah kami yang pernah lupa arah. Kini kami kembali. Jangan palingkan lagi hati ini setelah Engkau beri petunjuk. Terimalah kami, ya Rabb…”

Air mata mereka jatuh, bukan lagi karena kosong, bukan lagi karena iri, tapi karena rasa syukur yang dalam.

Mereka akhirnya sadar: jalan pulang hanyalah satu-kembali kepada Allah.
Dan hanya di situlah, hidup benar-benar menemukan maknanya.

Pak J

Jumat, 22 Agustus 2025

"KOMPOR" VAN DE BOSH : DULU MENGURAS AIR ,SEKARANG MENGURAS KESABARAN

 Nganjuk 22 agust 2025.Ruang Ide.

Tahun 1830, Belanda punya ide “brilian”-brilian buat kantong mereka, tapi bikin rakyat kita ngos-ngosan. Namanya Cultuurstelsel alias Sistem Tanam Paksa. Yang menggagas? Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Beliau ini orang Belanda yang datang ke Jawa bukan untuk wisata kuliner, tapi buat memastikan kas negaranya penuh-apalagi setelah negeri Belanda bangkrut dan miskin  gara-gara perang Pangeran diponegoro atau perang Jawa.


Nah, sistem tanam paksa ini simpel: petani harus sedia satu per lima tanahnya, bukan untuk menanam padi buat makan sendiri, tapi buat menanam tanaman ekspor: seperti kopi, nila, karet, lada dan terutama tebu. Tebu ini lho, yang manis-manis itu, tapi getirnya bukan main buat rakyat saat itu.

Kalau kita tarik garis waktu ke Desa Nglaban, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk (dulu masuk kawedanan Kediri), bayangin para petani desa ini juga kena getahnya. Mereka yang biasanya nanam padi buat dapur mereka, sekarang harus nurut nanam tebu buat Belanda. Pikirannya sederhana: kalau nggak ikut aturan, bisa kena hukuman. Jadi ya manut wae, meskipun hati nggerundel.

Buktinya masih ada sampai sekarang. Di pinggir Desa Nglaban, berbatasan dengan Dusun Gedangan, Desa Sumengko, Sukomoro, ada sebuah bangunan misterius yang orang kampung nyebutnya “Kompor.” Tenang, ini bukan kompor buat masak sayur lodeh, tapi semacam sumur raksasa peninggalan zaman tanam tebu. Diameter? Kurang lebih 6 meter. Kedalaman? 25 sampai 30 meter. Coba bayangin, kalau ada yang jatuh ke situ, bisa nyanyi “Dalamnya lautan, siapa yang tahu…”


Fungsi aslinya apa? Ya buat sumber air, irigasi tebu. Airnya dipakai mengairi perkebunan biar si tebu tumbuh subur, lalu diperas habis-habisan demi keuntungan pemerintah kolonial. kalau pas kompor di nyalakan dengan mesin desa itu kehabisan air. sumur warga banyak yang kering. Bangunannya kuat banget, pakai teknik masa itu yang bikin kita melongo: “Kok bisa ya, zaman dulu udah bikin beginian?”

Tapi ada cerita lain yang bikin tambah geleng-geleng kepala. Katanya, kalau dulu “kompor” ini dinyalakan pakai mesin penyedot air, warga desa langsung tekor bareng-bareng. Air sumur mereka ikut raib-kering kerontang! Jangan dibayangin ada PDAM yang ngalir sampai rumah ya. Wong warga waktu itu kalau mau ngambil air aja masih pakai senggot (ember seng diikat tali). Begitu mesin kompor hidup, senggot jadi alat olahraga doang: diturunin ke sumur, ditarik lagi, yang naik cuma angin. Jadi, bisa dibilang kalau mesin kompor hidup, warga desa cuma bisa hidup pakai doa.

sumur senggot
Sayangnya, sekarang “kompor” itu sudah jadi korban peradaban modern. Bukan dipugar, bukan dilestarikan, malah jadi tempat timbun sampah. Bayangin, bangunan yang dulunya saksi bisu penderitaan petani sekarang cuma jadi “bak sampah” raksasa. Tambah ironis lagi, tanah di sekitarnya yang dulu terkenal angker (katanya banyak makhluk halus) sekarang sudah berdiri rumah warga.
Rupanya makhluk halusnya juga sudah kalah sama kredit Tukang Bangunan.

Lucunya, warga setempat cuek-cuek aja. Mungkin mereka mikir, “Lha wong itu cuma lubang gede, buat apa dipikirin?” Pemerintah? Sama aja. Belum ada yang serius mikir, “Eh ini kan bisa jadi cagar budaya!” Akhirnya ya begitulah: sejarah terkubur, literally ditimbun sampah.


Padahal, kalau pemerintah kabupaten Nganjuk yang sering di sebut Anjuk Ladang itu mau Peduli, tempat itu bisa dipoles dikit aja, bisa jadi wisata edukasi anak sekolah, tongkrongan positif anak muda dan menjadi icon desa yang luar biasa: “Kompor Raksasa Peninggalan Tanam Paksa.” Bayar tiket masuk, dapat bonus cerita mistis. Wisatawan pasti penasaran: “Kompor gede gini buat masak apa? lodeh satu desa?”

Jadi begitulah, dari seorang Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch yang memaksa rakyat nanam tebu untuk kepentingan tuan penjajah, sampai ke sebuah “kompor” raksasa yang sekarang nasibnya miris.

Saking mirisnya, kadang orang mikir: “Ini kompor butuh bantuan bansos Dinas Sosial, apa perlu kaleng infak masjid yaa biar bisa direnovasi?” Bayangin aja, peninggalan sejarah yang dulu disedot-sedot airnya buat ngisi kas Belanda, sekarang malah numpuk sampah, kayak nunggu antrean BLT. Bedanya, kalau rakyat dapat beras 5 kilo, si kompor paling cuma dapat timbunan sampah 1 truk.

Mungkin solusi paling gampang ya taruh kaleng infaq masjid di dekat kompor. Siapa tahu ada yang nyumbang seribu, dua ribu, lama-lama bisa jadi cagar budaya. Kalau nggak ya minimal bisa buat beli sapu lidi, biar sampahnya nggak numpuk.

Kalau bisa nangis, kompor ini pasti udah main sinetron jam tujuh malam. Judulnya: Airku Habis Disedot Belanda, Kini Aku Ditimbun Warga. Peran utamanya: si Kompor yang tersakiti, peran antagonisnya: sampah plastik Indomie yang tak pernah habis.

Atau kalau dibawa ke panggung stand up comedy, kompor ini bakal ngomong:
“Bro… dulu aku dipakai Belanda buat bikin mereka kaya raya. Sekarang aku dipakai warga buat buang sampah. Jadi intinya, dari zaman penjajah kolonial sampai sekarang, fungsiku tetap sama: bikin rakyat keluarin keringat.”
Pak J . wong nglaban asli 

Kamis, 21 Agustus 2025

SEKOLAH TAKUT PENJARA,MORAL BOCAH JADI TUMBALNYA

 

RUANG IDE - P agi itu, di warung kopi Mbok Surti, aroma tempe mendoan dan kopi hitam menyatu. Seperti biasa, para “dewan warung” nongkrong sambil membahas topik nasional yang entah kenapa selalu lebih seru daripada berita TV.

“Eh, Le,” kata Pak Bejo sambil nyeletuk, “kamu tahu nggak? Sekarang kalau guru nekat buka HP murid buat ngecek moral, bisa dipenjara lima tahun. Padahal murid-murid itu sering tiba-tiba dimasukkan ke grup aneh-aneh tanpa mereka ngerti. Ada grup LGBT, ada grup mesum, ada juga jualan obat kuat. Lah, bocah SMP disuguhi obat kuat, wong makan tahu aja masih disuapin!”
Warung langsung riuh ketawa.


Pak Karyo ikut menimpali, "Lha piye, sekarang itu anak dikasih HP rekomendasi tugas online. Tapi malah ditugaskan online-in diri ke grup mesum. Gurunya pengin nyelametin, eh malah bisa dituduh kriminal. Jadi sekarang guru lebih aman ngajar rumus Pythagoras daripada rumus menjaga akhlak."



“Bener,” sambung Pak Mardi sambil ngudud, “pemerintah ini aneh. Sekolah diwajibkan mendidik karakter, tapi dicekoki undang-undang yang melarang buka HP murid. Jadi gurunya harus punya ilmu kebatinan: bisa tahu isi chat tanpa buka HP. Kalau nggak, ya siap-siap lihat moral bocah nyungsep.”

Mbok Surti yang dari tadi sibuk nggoreng tempe nggak tahan ikut nyeletuk, “Kalau gini caranya, 10 tahun lagi akhlak anak bangsa bisa jadi barang antik. Di museum mungkin ada tulisan: 'Ini contoh generasi yang masih ngerti sopan santun. Setelah itu punah, diganti generasi jempol' .”

“Yo betul, Mbok,” timpal Pak Bejo, “sekarang negara lebih sibuk jaga data pribadi bocah daripada jaga moralnya. Jadi kalau ada murid nonton film biru, yang dilindungi bukan matanya, tapi password HP-nya. Lah iki piye logikane?”

Warung kembali pecah tawa. Tapi di balik tawa itu, kopi terasa semakin pahit.

Pak J 

Rabu, 20 Agustus 2025

NEGARA INI....... BEBAN KITA SEMUA ?


Di sebuah warung kopi pinggir jalan, obrolan pagi tiba-tiba jadi serius gara-gara satu kalimat dari Bu Menteri: “Guru itu beban negara.”

Wah, yang ngopi langsung kaget. Ada yang sampai nyembur kopinya, ada yang pura-pura ngelap meja padahal matanya merah nahan emosi.

“Lha, kalau guru beban negara, terus negara ini apa? Beban rakyat, to?” celetuk Pak RT yang sedang ngopi sambil nyicil rokok.

Semua ketawa, tapi ketawanya getir. Soalnya memang bener. Rakyat tiap hari bayar pajak, listrik naik, bensin naik, beras naik-yang turun cuma harapan.

Dialog di Warung Kopi

Eh, coba bayangno ya,” kata Mas Karyo, tukang servis kipas angin.
“Guru beban negara, katanya. Padahal guru itu yang ngajarin anak pejabat sampai bisa tanda tangan APBN. Coba kalau nggak ada guru, siapa yang ngajarin Bu Menteri baca teks waktu pidato?”

Semua yang ada di warung ketawa lagi. Kopi hampir tumpah, gorengan hampir salah masuk mulut.

“Negara ini aneh, Rek,” sambung Pak Dhe Wito.
“Rakyat sudah bayar pajak, rakyat disuruh sabar, rakyat disuruh gotong royong, eh giliran minta gaji guru dinaikno, langsung dibilang beban. Padahal gaji pejabat yang kayak gaji kiper liga Inggris itu, kok nggak pernah disebut beban?”

Satire Penuh Canda

Ada yang nyeletuk lebih sadis:
“Mungkin negara ini salah kaprah. Harusnya rakyat yang bilang: ‘Negara, sampean iki beban kami kabeh. Makan APBN triliunan, tapi hasilnya? Rakyat masih rebutan BLT kaya rebutan pentol keliling.’

Yang ngopi langsung ngakak.
Tapi ada juga yang tiba-tiba sepi. Soalnya, memang nyatanya rakyat sering dipalak negara lewat pajak, tapi giliran rakyat butuh, negara malah pura-pura jadi ‘beban’ yang nggak bisa ngangkat diri.

Akhirnya, obrolan warung kopi itu ditutup oleh Pak Udin, si tukang parkir yang paling jarang ngomong.
“Sing jelas itu.. kalau guru beban negara, terus pejabat beban siapa? Beban rakyat! Dan rakyat? Beban hidup!”

Warung kopi meledak lagi oleh tawa.
Tapi tawa itu, seperti biasa, cuma jadi cara rakyat melepas penat. Soalnya, besok pagi mereka tetap harus bayar pajak, beli bensin mahal, dan ngopi lagi sambil bercanda:
“Negara ini... beban kita semua.”

Selasa, 19 Agustus 2025

NEGARA RIBUT ANGKA, GURU RIBUT CARI ONGKOS PULANG

Jakarta- Ruang ide. Presiden Prabowo Subianto dengan lantang menyebut Rp178,7 triliun siap digelontorkan tahun 2026 untuk gaji, tunjangan, dan peningkatan kompetensi guru serta dosen. DPR pun riuh tepuk tangan, seolah-olah semua masalah guru langsung beres.

Namun, riuh tepuk tangan di Senayan tidak selalu sama dengan riuhnya ruang guru di pelosok negeri. Di sana, motor butut tetap jadi tunggangan setia, ongkos bensin masih dihitung sampai tetes terakhir, dan bau spidol terus jadi aroma terapi wajib di kelas. Guru-guru swasta, guru guru honorer bahkan ada yang gajinya kalah sama uang parkir mobil mewah pejabat Senayan.


Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat menyebut anggaran guru sebagai “tantangan keuangan negara”. Kalimat ini memicu reaksi publik. Wajar saja, karena di telinga rakyat, guru bukanlah beban, melainkan pondasi. Kalau guru disebut “tantangan”, maka artinya negara masih gagal memahami: siapa yang membuat anak-anak bisa membaca, berhitung, hingga kelak duduk manis di kursi dewan dan kursi kementerian.

Baca juga : Mak-sri-sang-menteri-keuangan-

Padahal, tanpa guru, jangankan menyusun APBN, tanda tangan nota keuangan pun bisa salah kaprah. Tanpa guru, rapat DPR mungkin hanya berisi gambar stickman, pidato menteri penuh emotikon, dan undang-undang ditulis dengan ejaan "ba-bi-bu". mungkin begitu hahahahaa

Ironinya, negara sibuk ribut angka triliunan, sementara banyak guru masih ribut cari ongkos pulang. Di atas kertas, guru diguyur triliunan. Tapi di lapangan, banyak yang harus cari tambahan dari les privat, jualan online, bahkan ngojek sampingan.

Satire yang Perlu Dicatat

Kalau negara benar-benar ingin membangun pendidikan, seharusnya kesejahteraan guru tidak hanya jadi angka di atas podium. Gaji harus layak, tunjangan harus jelas, dan penghargaan harus nyata. Jangan sampai guru terus mengajar dengan semangat setengah mati, tapi pulang sekolah masih mikir: “Besok bensin cukup nggak ya buat berangkat?”

Guru bukan beban negara. Justru kalau guru disepelekan, negara yang akan benar-benar terbebani: generasi tanpa karakter, tanpa ilmu, dan tanpa masa depan.

Belajar dari sejarah jepang 

Sesudah bom atom menghancurkan Hiroshima, yang pertama kali ditanyakan pejabat Jepang adalah: Berapa guru yang masih hidup? Artinya, pendidikan dan guru dipandang sebagai pondasi bangsa. Negara bisa runtuh, tapi jika guru masih ada, semangat kebangsaan bisa dibangun ulang.
kenapa di negara ini justru terlihat sebliknya.

Negara boleh ribut angka triliunan, boleh tepuk tangan sekuatnya di ruang sidang DPR paripurna. Tapi selama ruang guru masih bau spidol kesengsaraan, motor butut tetap ngebul permasalahan hidup keluarga guru, dan ongkos pulang masih jadi beban drama setiap harinya, maka kata “kesejahteraan bagi guru” hanyalah ilusi.

Pak J

Senin, 18 Agustus 2025

NGOPI SAMBIL MIKIR : REZEKI ITU URUSAN BOZ BESAR

 

Ada yang kerja keras jungkir balik- kayak kipas angin rusak, muter terus tapi anginnya kecil. Hasilnya? Ya pas-pasan buat beli beras sama kuota.

Eh, ada juga yang santai-santai buka warung kopi di sebelah balai desa. Baru buka sehari, kursi plastiknya langsung penuh. Lurah, perangkat desa, sampai rombongan bapak-bapak ronda, semua numplek di situ. Warungnya jadi kayak kantor cabang balai desa versi nongkrong.

Nah, dari sini kita bisa mikir: kerja keras itu wajib, tapi hasilnya nggak selalu sesuai hitungan kalkulator kita. Ada faktor lain yang sering kita lupa: rezeki itu nggak cuma soal usaha, tapi ada campur tangan Allah.

Coba bayangin, kalau rezeki itu murni hasil kerja keras, harusnya sapi paling kaya di dunia. Kerjanya nggak pernah libur: narik bajak sawah, makan rumput seadanya, tidur di kandang bau, tapi tabungannya nol. Bandingkan sama kucing. Kerjanya cuma tidur 18 jam sehari, bangun bentar minta makan, terus tidur lagi. Tapi herannya, banyak orang bela-belain beli makanan kucing yang harganya kadang lebih mahal dari beras. Lah, gimana coba?

Artinya apa? Ada faktor “luck” alias keberuntungan yang sebenarnya bukan sekadar hoki, tapi bagian dari skenario Allah. Kita nggak bisa kontrol semua hal. Kita cuma bisa ikhtiar, usaha maksimal, dan setelah itu pasrah sambil bilang: “Ya Allah, saya udah nyoba, sisanya urusan-Mu.”

Kalau lagi dapat rezeki banyak, jangan GR dulu, itu ujian: bisa nggak kita bersyukur dan berbagi? Kalau lagi seret, jangan nggrundel, itu juga ujian: bisa nggak kita sabar dan tetap yakin Allah ngatur yang terbaik.


Hidup ini, kalau diibaratkan kopi, rasanya kadang manis, kadang pait, kadang malah keasinan (gara-gara gula ketuker sama garam). Tapi apapun rasanya, yang bikin kopi tetap Allah. Tugas kita cuma ngopi dengan ikhlas, syukuri rasanya, lalu lanjut kerja lagi.

Jadi, kalau kamu sekarang lagi jungkir balik tapi hasil masih pas-pasan, jangan putus asa. Bisa jadi Allah lagi ngajari sabar dan tahan banting. Dan kalau kebetulan kamu buka usaha tiba-tiba rame, jangan keburu bangga. Ingat, itu bukan cuma karena strategi bisnis jitu, tapi karena Allah lagi ngasih bonus.

akhirnya : rezeki itu bukan soal siapa paling keringetan, tapi siapa yang paling ikhlas berusaha dan percaya sama Allah.

Ngopi itu enak, Le… bikin badan hangat, pikiran tenang. Tapi ingat, kalau kopi bisa bikin mata melek,maka  sholat bisaNN bikin hati adem. Jadi jangan sampai rajin ngopi di warung, tapi telat ngopi rohani di masjid.

“Le, kopi itu bikin kita kuat begadang. Tapi sholat bikin kita kuat menghadapi hidup dan tantangan.. Kopi bikin mata terbuka, Tanpa sholat bikin jalan hidup kita terluka dan bahaya.”