Selasa, 15 September 2026

PERGANTIAN MENTERI : MUSIBAH ATAU BERKAH

 

INIKAH CARA ALLOH MENYELAMATKAN NYA

Pergantian seorang menteri selalu mengundang pertanyaan. Apalagi jika pergantian itu terjadi secara tiba-tiba, saat sang menteri masih tampil di hadapan lembaga negara.

14 September 2026, Pak Purbaya Yudhi Sadewa diberhentikan dari jabatan Menteri Keuangan dan digantikan oleh Pak Suahasil Nazara. Pak Purbaya bahkan sedang mengikuti rapat bersama DPD RI mengenai APBN ketika ia menerima telepon. Tidak lama setelah itu, pergantian tersebut diumumkan.

Mengapa?

Sampai saat ini, alasan resmi yang secara spesifik acara pencopotan Pak Purbaya dengan satu masalah tertentu belum terbuka kepada publik. Oleh karena itu, terlalu dini jika kami mengatakan bahwa masalah MBG, pengadaan motor listrik, atau gaya komunikasi  Pak Purbaya adalah penyebab perubahannya. Tetapi ada rangkaian peristiwa yang menarik untuk direnungkan.

Ketika Pak Menteri berkata, "Saya kecele"

Juni 2026, Pak Purbaya berbicara mengenai pengadaan motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengatakan bahwa pengadaan tersebut sebelumnya telah ditolak, tetapi kemudian pembelian tetap terjadi. Dalam penjelasannya, ia bahkan menggunakan istilah yang sangat sederhana: "kecele".

Menurut pemberitaan yang mengutip pernyataan Pak Purbaya, pengadaan tersebut kemudian menjadi bagian dari masalah tata kelola MBG yang sedang ditangani aparat penegak hukum. Pak Purbaya mengatakan pihak-pihak di Kementerian Keuangan yang terkait dengan lolosnya anggaran tersebut telah ditindak.

Di sini ada sesuatu yang menarik.

Sebagai pejabat publik, Pak Purbaya berada pada posisi yang tidak mudah. Ia tidak hanya bertanggung jawab terhadap angka APBN, tetapi juga terhadap sistem yang membuat setiap rupiah negara harus memiliki pertanggungjawaban.

Oleh karena itu, ketika ia mengatakan "kecele", kalimat tersebut dapat dibaca bukan semata-mata sebagai ucapan spontan seorang pejabat, tetapi juga sebagai pengakuan bahwa sebuah sistem pengawasan dapat memiliki celah.

Dan ternyata persoalan itu tidak berhenti di sana.

Pada Agustus 2026,  Pak Purbaya kembali mengungkap bahwa hasil pengawasan lapangan menemukan banyak kekurangan dalam proses pertanggungjawaban keuangan MBG di daerah. Temuan tersebut, menurut penjelasannya, akan disampaikan kepada Badan Gizi Nasional untuk ditindaklanjuti.

Artinya, yang disampaikan Pak Purbaya bukan sekadar kritik terhadap MBG sebagai sebuah gagasan. Ia berbicara tentang tata kelola uang negara .

Dan itu memang bagian dari tugas seorang Menteri Keuangan.

Apakah MBG yang menjadi pemicu?


Pertanyaan ini wajar muncul setelah pergantian terjadi. 
Apakah masalah motor listrik MBG menjadi pemicu?Apakah keterbukaan Pak Purbaya mengenai kelemahan pertanggungjawaban keuangan MBG menjadi salah satu faktor?

Ataukah ada persoalan lain yang tidak diketahui masyarakat?

Jawabannya masih samar antara iya dan tidak kata lain nya belum jelas betul apa penyebabnya.

Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati. Fakta bahwa beberapa pernyataan Pak Purbaya tentang MBG muncul sebelum pergantian tidak otomatis membuktikan adanya hubungan-akibat.

Justru di sisi ini pentingnya kita membedakan urutan peristiwa dengan penyebab peristiwa .

Yang kita ketahui adalah Pak Purbaya mengungkap persoalan dalam pengelolaan anggaran MBG. Yang juga kita ketahui adalah ia kemudian digantikan. Tetapi apakah yang pertama menyebabkan yang kedua, belum ada bukti publik yang cukup untuk menyatakannya.

 Dan mungkin, pertanyaan yang lebih menarik bukan hanya pada:

kenapa Pak Purbaya dicopot?” Melainkan:

“Apa yang mungkin sedang Allah persiapkan setelah seseorang keluar dari sebuah jabatan?”

Tidak semua kehilangan itu adalah musibah

Dalam kehidupan manusia, kita sering menggunakan ukuran yang sangat sederhana dalam menilai suatu peristiwa..

Mendapat jabatan berarti keberuntungan. Jika Kehilangan jabatan berarti kemunduran. Kalua Naik berarti keberhasilan. Saat Turun berarti gagal.

Padahal hidup ini tidak menjanjikan hal-hal yang menjanjikan itu.

Ada orang yang memperoleh jabatan, tetapi justru mereka kehilangan ketenangan. Hidupnya merasa tidak aman Seolah-olah setiap langkahnya adalah ancaman yang fatal.

Ada yang kehilangan jabatannya, namun kemudian memperoleh kesempatan yang jauh lebih luas untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.

Ada pula seseorang yang merasa dirinya sedang kehilangan sesuatu, padahal sebenarnya dia sedang menjauh dari sesuatu yang belum dia ketahui.

Oleh karena itu, pergantian Pak Purbaya tidak harus dibaca sebagai musikbah bagi dirinya. Bisa jadi kita sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian kursi jabatan menteri.

Bahkan sangat bisa jadi Allah sedang menyelamatkannya dari sebuah permasalahan yang belum terlihat saat ini. Atau bisa jadi Allah sedang memindahkannya dari sebuah ruang yang penuh risiko menuju ruang lain yang lebih sesuai dengan gagasan, pengalaman, dan kapasitasnya pak purbaya.

Atau mungkin juga, tanpa kita ketahui, Allah sedang menyiapkan panggung lain untuk dirinya.

Dalam kehidupan ini kita tentu tidak boleh begitu saja menuntut kehendak Allah. Itu wilayah yang tidak dapat dijangkau manusia.

Tetapi sebagai orang beriman, kita dapat mengambil pelajaran:

Tidak semua yang kita anggap kehilangan benar-benar merupakan kehilangan.

 Bisa Jadi di luar kementerian ia lebih bebas berpikir

CALON WAKIL PRESIDEN 
Ada satu kemungkinan lain yang menarik.

Seorang Menteri Keuangan bekerja dalam sebuah sistem pemerintahan. Ia memiliki kewenangan, tetapi sekaligus memiliki batas. Ia membawa visi dan gagasan, namun gagasan tersebut harus berhadapan dengan kepentingan politik, koordinasi antarlembaga, aturan birokrasi, serta keputusan kolektif pemerintah.

Dengan demikian, menjadi menteri tidak otomatis berarti seseorang mempunyai ruang tak terbatas untuk menjalankan seluruh gagasannya.

Kadang-kadang seseorang justru baru dapat mengembangkan pemikirannya secara lebih luas setelah keluar dari sebuah jabatan atau sistem yang ada.

Ia dapat menulis.

Ia dapat mengajar.

Ia dapat melakukan riset.

Ia dapat memberikan kritik secara lebih independen.

Mampu pula ia membangun gagasan kebijakan.

Bahkan mungkin ia dapat menawarkan konsep ekonomi yang selama berada di dalam pemerintahan harus berkompromi dengan begitu banyak kepentingan.

Maka, boleh jadi ada fase kehidupan ketika jabatannya bukan lagi kendaraan utama untuk berbuat besar .

Kadang-kadang seseorang harus turun dari kendaraan itu terlebih dahulu agar dapat berjalan ke arah lorong yang lebih kecil. Atau menatap luasnya cakarawala yang penuh pelangi. Karena dengan turun itulah ia dapat melihat dengan terang blankspot yang saat terjadi tidak ia lihat dengan jelas.

Jabatan hanyalah ruang pengabdian

Pada akhirnya, jabatannya hanyalah sebuah ruang. Hari ini seseorang berada di dalamnya. Besok orang lain menggantikannya. Begitulah pemerintahan berjalan.

Pak Purbaya pernah menduduki posisi Menteri Keuangan. Kini posisi tersebut diisi Pak Suahasil Nazara. Presiden memberikan arahan kepada menteri baru untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas negara.

Tetapi nilai seorang manusia tidak pernah menduduki jabatannya.

Yang menentukan bukan berapa lama seseorang duduk di sebuah kursi, melainkan apa yang ia lakukan ketika berada di sana dan apa yang ia lakukan setelah meninggalkan kursi tersebut.

Oleh karena itu, barangkali kita tidak perlu terburu-buru menyebut pergantian Pak Purbaya sebagai kemenangan atau kekalahan siapa pun. Kita belum mengetahui keseluruhan cerita. Kita belum mengetahui seluruh pertimbangannya.

Dan kita belum mengetahui ke mana perjalanan berikutnya akan membawanya.

Yang jelas, ada satu pelajaran yang jauh lebih universal.

Kehidupan tidak selalu mengikuti kalkulasi manusia.

Apa yang hari ini terlihat seperti kehilangan, bisa saja besok menjadi jalan keselamatan.

Apa yang hari ini terasa seperti menutup pintu, bisa saja ternyata merupakan cara Allah membuka pintu yang lain yang lebih indah.

Dan mungkin, bagi  Pak Purbaya, pertanyaan terbesarnya sekarang bukan lagi:

"Mengapa saya kehilangan jabatan Menteri Keuangan?"

Tetapi:

"Untuk apa Allah mengeluarkanku Pak Purbaya dari ruangan itu?"

Sebab manusia hanya melihat pintu yang tertutup.

Sedangkan Allah mengetahui jalan yang berada di balik pintu berikutnya.bahkan tempat kosong yang tidak pernah kita pikirkan.

Maka, jika benar pergantian itu tidak disebabkan oleh satu persoalan yang selama ini ramai diperbincangkan, biarlah waktu yang menjelaskannya.

Jika ternyata diketahui ada persoalan yang lebih besar yang belum dipublikasikan, biarlah fakta yang menguak nya

Dan jika pergantian itu justru menjadi jalan bagi Pak Purbaya untuk mengembangkan gagasan-gagasan besarnya di ruang yang lebih luas, maka mungkin suatu hari nanti kita akan melihat bahwa kehilangan sebuah jabatan ternyata bukan akhir dari sebuah pengabdian. Bisa jadi justru awal dari babak yang baru.


Pak J

Guru Senior Sejarah SMK di Jawa Timur

 

Kamis, 15 Januari 2026

KENAPA HIDUP ANAK MUDA TERASA MAKIN KACAU

Ku Persembahan tulisan ini untuk Gen Z:
yang sedang kuat-kuatnya diuji arah hidupnya.

Kenapa hidup anak muda terasa makin kacau?
Bukan karena kurang potensi, tapi karena hidup dijalani tanpa atensi (perhatian diri).
Tidur larut dianggap biasa, bangun siang terasa wajar.
Waktu dibiarkan bocor, lalu heran mengapa hidup terasa tak tersohor.

HP dijaga seperti nyawa kedua.
Baterainya tak boleh habis, sinyal tak boleh putus.Kopi Dikejar, Sholat Ditawar
Tapi arah hidup?
Sering kosong, seolah masa depan bisa menunggu kapan saja bahkan sampai gosong.

Sholat diabaikan,
Warung kopi hadir seperti kewajiban.
Adzan terdengar, tapi seperti sesuatu yang ambyar..
Ajakan nongkrong datang, langsung disambar.
Yang memanggil dari langit sering kalah
oleh obrolan kopi yang tak pernah menyelesaikan masalah.

Padahal Isra’ Mi‘raj adalah kisah tentang disiplin jiwa.
Tentang manusia yang dimuliakan karena taatnya,
tentang sholat yang diturunkan bukan untuk memberatkan,
melainkan  menata hidup untuk di tingkatkan, agar tidak liar dan kehilangan arah.

Gen Z ini generasi yang rajin mengisi paketan ponsel,
namun sering lupa mengisi jiwa.
Disiplin dianggap kuno,
menunda jadi gaya hidup,
hiburan naik kelas menjadi tujuan.

Jangan salah paham.
Ini bukan santai, ini lalai.
Santai itu sadar dan terkendali,
lalai itu hidup tanpa rem dan tanpa tujuan diri.

Tubuh jarang dilatih,
mental pun mudah Ringkih
Sedikit tekanan sudah menyerah,
sedikit masalah merasa hidup paling berat.
Fisik diabaikan,
jiwa pun kehilangan ketangguhan.

Hari-hari berjalan tanpa pola.
Bangun bukan untuk tujuan,
tapi sekadar mengulang kebiasaan.
Lalu heran dan bertanya,
“Kenapa hidupku stagnan?”

Isra’ Mi‘raj mengajarkan satu hal yang sering dilupakan:
hidup harus punya poros.
Dan poros itu bernama sholat.
Ketika hubungan dengan Tuhan longgar,
hubungan dengan diri sendiri ikut berantakan dan ambyar.

Ini bukan soal menjadi sempurna.
Ini soal berani memulai.
Menegakkan sembahyang (sholat) sebelum menuntut ketenangan,
merapikan jam hidup sebelum menyalahkan keadaan,
melatih disiplin sebelum bermimpi besar dan menawan.

Karena masa depan tidak lahir dari scroll tanpa ujung,
bukan dari nongkrong yang berharap di sanjung,
melainkan dari kebiasaan kecil
yang dilakukan dengan sadar dan konsisten.

Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peringatan sejarah.
Ia adalah panggilan untuk kembali pulang.
Dari lalai menuju sadar, dan peduli
dari kosong menuju bermakna.


Langit sudah memberi undangan.
Pertanyaannya tinggal satu:
kita masih mau menunda, atau mulai menjawabnya?


Senin, 12 Januari 2026

KETIKA NEGARA PILIH KASIH DALAM MENG-UPGRADE GURU SMK

 

Ada yang janggal dalam cara negara memperlakukan guru-guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Janggal, namun seperti dianggap wajar. Janggal, tetapi nyaris tak pernah dibicarakan secara terbuka.

SMK berada di bawah naungan BBPPMPV, sementara urusan peningkatan kompetensi guru secara umum seharusnya juga menjadi wilayah BBGTK. Namun dalam praktiknya, program upskilling dan reskilling seolah hanya dimaknai sempit: hanya untuk guru produktif. Selebihnya? Guru normatif dan adaptif tampak diletakkan di pinggir meja kebijakan.

Ironisnya, ketika ada inisiatif peningkatan kapasitas untuk guru normatif-adaptif SMK, justru muncul protes kelembagaan. Seolah-olah peningkatan kompetensi guru sejarah, bahasa Indonesia, matematika, PPKn, atau agama di SMK adalah sesuatu yang “tidak perlu”, atau bahkan “menyimpang dari garis”.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar:
Apakah hanya guru produktif yang perlu di-upgrade?
Apakah guru normatif dan adaptif dianggap sudah sempurna, atau justru tidak penting?

Jika logika kebijakan ini diteruskan, jangan salahkan publik, bila muncul pertanyaan yang lebih keras: sekalian saja hapus mata pelajaran normatif-adaptif di SMK. Karena dalam praktik kebijakan, mereka memang diperlakukan seperti pelengkap, bukan fondasi.

Padahal, guru produktif tidak bekerja di ruang hampa. Kompetensi kejuruan siswa tidak akan tumbuh sehat tanpa kemampuan berpikir kritis, literasi sejarah, logika matematis, etika kewargaan, dan kepekaan sosial—semua itu dibangun oleh guru normatif dan adaptif.

Apa jadinya lulusan SMK yang sangat terampil secara teknis, tetapi gagap membaca realitas sosial?
Apa artinya sertifikasi industri, jika cara berpikir masih sempit, mudah terprovokasi, dan miskin nalar kebangsaan?

Negara tampak terlalu sibuk mengejar link and match, hingga lupa bahwa pendidikan bukan sekadar soal kecocokan dengan industri, tetapi juga pembentukan manusia utuh. Upskilling yang hanya menyasar guru produktif adalah kebijakan efisien di atas kertas, tetapi cacat secara filosofi pendidikan.

Lebih aneh lagi, ketika antar-unit di bawah kementerian saling berhadap-hadapan, bukannya berkolaborasi. BBPPMPV dan BBGTK semestinya berjalan beriringan, bukan saling mengklaim wilayah, apalagi memprotes upaya peningkatan mutu guru yang jelas-jelas dibutuhkan.

Di titik ini, kritik perlu disampaikan dengan jujur dan terbuka:
kebijakan upskilling dan reskilling guru SMK hari ini masih setengah hati.
Ia tampak progresif di permukaan, tetapi timpang dalam pelaksanaan.

Guru normatif dan adaptif bukan beban. Mereka adalah penyangga logika, etika, dan arah berpikir siswa SMK. Mengabaikan mereka sama saja dengan membangun gedung megah di atas pondasi rapuh.

Pemerintah perlu berhenti berpikir sektoral dan mulai melihat pendidikan secara utuh. Jika tidak, maka yang dihasilkan bukan generasi siap kerja, melainkan generasi terampil namun kehilangan arah.

Dan itu, jauh lebih berbahaya daripada sekadar kekurangan tenaga terampil.

Selasa, 14 Oktober 2025

Framing Media dan Upaya Membunuh Karakter Islam

Dalam beberapa waktu terakhir, publik disuguhi berita-berita yang menohok dunia pesantren,habaib dan ulama. Penghujatan terhadap para habaib disamaratakan - seolah yang baik dan tulus sama dengan yang jahat dan menyimpang. Musibah di salah satu pesantren besar seperti Al Khoziny digoreng menjadi bahan olok-olok, bukan renungan untuk perbaikan bersama. Bahkan lembaga sekelas- Trans 7 pun sempat menayangkan framing yang menyesatkan tentang pengajaran Akhlaq di pesantren Lirboyo- pesantren yang sudah melahirkan ribuan ulama dan pejuang bangsa.

Ketika Pena Media Bisa Menjadi Jalan Surga atau Neraka"

rasa-aman-yang-menipu-nasehat 

"Di ujung jari mereka, ada kekuatan besar yang tak terlihat, tapi terasa.

Kekuatan yang bisa menyalakan cahaya kebenaran—atau menyalakan api kebencian.
Mereka adalah para pelaku media, awak berita, penulis naskah, editor, dan penyampai kabar yang hidup di antara dua dunia: kebenaran dan kepalsuan.

Bekerja di dunia media bukan sekadar mencari berita.
Bukan sekadar mengejar klik, rating, atau viralitas.
Pekerjaan ini adalah perjalanan di antara dua jurang: kemuliaan dan kehancuran.
Satu kata bisa menyejukkan ribuan hati, tapi satu kalimat juga bisa menyalakan bara perpecahan yang tak padam bertahun-tahun.

Itulah sebabnya, bagi umat Islam—bagi siapa pun yang sadar akan tanggung jawab di hadapan Tuhan—menjadi insan media harus berlandaskan iman yang kuat.
Karena setiap berita yang mereka sebarkan, setiap narasi yang mereka bentuk, akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya oleh publik, tapi juga oleh langit dan bumi.


Media, sejatinya, adalah ladang amal.
Dari pena mereka, umat bisa bersatu, bangsa bisa bangkit, dan kebenaran bisa menemukan jalan.
Namun dari pena yang sama, bisa lahir fitnah, kebencian, dan kehancuran moral yang sulit disembuhkan.
Maka, siapakah yang mampu menahan diri untuk tetap lurus di tengah derasnya arus pesanan, uang, dan kepentingan?

Hari ini, kita jarang menemukan media yang benar-benar netral.
keberpihakan telah menjadi warna, kadang tersamar, kadang terang-terangan.
Keadilan menjadi slogan yang indah di spanduk, tapi jarang di ruang redaksi.
Padahal di balik setiap berita, ada nurani yang seharusnya bicara lebih keras daripada kepentingan.

Maka, wahai para insan media—ingatlah bahwa pena kalian bukan sekadar alat profesi.
Ia adalah amanah dan saksi.
Ia bisa menjadi jembatan menuju surga bila menulis dengan niat kebenaran dan kejujuran.
Namun ia juga bisa menjadi tiket cepat menuju neraka, bila dipakai untuk memelintir fakta, menebar kebencian, dan menghancurkan nama baik orang lain demi sensasi.

Karya jurnalistik yang sejati lahir dari hati yang bersih.
Ia tidak takut kehilangan sponsor, tidak gentar kehilangan panggung, karena yang dikejar bukan sekadar “siapa yang salah”, tapi “apa yang benar.”
Dan kebenaran tidak akan pernah lahir dari kebohongan yang disulap menjadi narasi indah.

Pada akhirnya, semua akan kembali pada pondasi iman dan aqidah .
Dari situlah lahir sikap: apakah ia menulis untuk mencari ridha Tuhan, atau sekadar ridha pengiklan.
Apakah ia mengabarkan kabar yang membangun, atau menggoreng berita demi kepentingan kelompok tertentu.

Keadilan dari media hari ini mungkin sulit diharapkan sepenuhnya,
namun celah kejujuran masih ada.
Dan selama celah itu belum tertutup, semoga masih ada awak media yang berani berkata:

“Saya menulis bukan untuk menyenangkan siapa pun — saya menulis agar kebenaran tetap hidup.”


Pak J 

Senin, 06 Oktober 2025

Era Algoritma: BENARKAH PLAFORM ITU MENJAJAH ?

SAFA AYU 5 

Hari ini kita hidup di tengah gempuran teknologi. Nama-nama besar seperti Gojek, Grab, Shopee, dan Tokopedia sering dielu-elukan sebagai penyelamat: menciptakan lapangan kerja, membantu UMKM, dan memudahkan hidup. Sekilas, semua tampak sempurna. Tapi, kalau kita mundur sejenak dan menengok ke belakang, cerita sebenarnya tidak sesederhana itu. inilah perlunya kita ngerti sejarah.

Dahulu sejarah nya, Sebelum ada Gojek, abang-abang ojek sudah mangkal di pangkalan kecil, menunggu penumpang dengan sabar. Sebelum ada Shopee dan Tokopedia, jual-beli sudah hidup meriah di pasar rakyat, di kios, toko, hingga warung tetangga. Artinya, aktivitas itu memang sudah ada. Aplikasi datang bukan menciptakan yang baru, melainkan membungkus ulang yang lama dengan cara lebih modern.( bahasa lain nya menguasai )

Pada awalnya semua terasa praktis. Ojek tinggal klik, belanja tinggal pesan. Orang senang, hidup terasa lebih cepat. Tapi perlahan muncul tanda-tanda lain tanda tanda yang tak semestinya. Ojek pangkalan makin sepi bahkan cenderung mati. Pasar tradisional kehilangan pembeli. Toko-toko kecil terpaksa gulung tikar dan mengubur diri. Yang tadinya terlihat seperti solusi, ternyata juga membawa masalah baru.


Masalah itu muncul karena kendali bukan lagi di tangan rakyat, tapi di tangan aplikasi. Tarif driver bisa diubah sepihak. Penjual kecil dipaksa ikut promo yang sebenarnya hanya menguntungkan platform. Konsumen pun sering terjebak diskon palsu yang pada akhirnya tetap menambah pundi-pundi aplikator. Dan ironinya, negara lebih sering terlihat memberi karpet merah pada investor asing ketimbang melindungi warganya sendiri.

Driver ditarik pajak, UMKM dipotong komisi, sementara pemilik aplikasi bisa mengatur bisnis dari kantor luar negeri. Investor asing bahkan mendapat insentif, sementara pedagang kecil harus berjuang sendirian. Ketika pasar hanya bisa diakses lewat satu atau dua aplikasi, pilihan rakyat semakin sempit. Inilah bentuk monopoli yang pelan-pelan menjerat.

Dulu penjajah datang dengan kapal, merebut rempah-rempah. Kini penjajahan hadir lewat server, merebut data, pasar, dan keringat rakyat. Bedanya, wajahnya kini ramah dan penuh warna, seakan memberi solusi, padahal diam-diam menghisap.

Apakah berarti kita harus menolak teknologi? Tidak. Justru teknologi bisa jadi alat penting untuk memajukan bangsa. Tapi kendalinya harus ada di tangan kita, bukan hanya di perusahaan raksasa yang berkantor di luar negeri. Negara harus berani menata ulang: memastikan pajak aplikator adil, melindungi driver dan UMKM dari aturan sepihak, sekaligus menguatkan pasar rakyat dengan digitalisasi berbasis koperasi atau komunitas.

Era digital seharusnya membuka peluang, bukan mempersempitnya. Ia seharusnya memanusiakan, bukan memeras. Dan kalau kita tidak hati-hati, kita akan menyadari satu hal: penjajahan itu ternyata tidak pernah pergi. Ia hanya berganti wajah—dari kapal yang berlabuh di pelabuhan, menjadi server yang masuk ke ponsel kita.

Minggu, 14 September 2025

PEMIMPIN MAIN-UANG, SISWA IKUT MAIN-NILAI

 Korupsi Pendidikan: Dari Kepala Dinas hingga Menteri

Ruang ide 2025
Mantan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur jadi tersangka korupsi dana SMK ratusan miliar. Bagi sebagian masyarakat awam? Mungkin  mereka akan berpikir   :“ya sudah biasa itu, kan sering dengar tidak kali ini saja”. Tapi serius,ini Bro… bukan hanya yang ratusan miliar!  bahkan yang ratusan triliun,  mereka banyak yang aman dan  tetap aman-aman saja.
boleh di baca juga : guru-impresif-investasi-negara-yang.

Dan itu bukan cuma di level provinsi lo...,-mantan Menteri Pendidikan pun terseret kasus korupsi, walau obyek korupsinya berbeda. Nah, kalau stake holder dan pengelola pendidikan sudah menghalalkan segala cara untuk tujuan hanya demi uang, maka jangan kaget kalau para siswapun meniru menghalalkan segala cara : Ngerpek, nyontek, dan sejenisnya hanya memburu, mendapatkan  dan demi angka-angka yang sering di sebut  dengan "nilai". 

eks kadindik jatim .foto dari Kompas.com

Mereka sudah menerima contoh melalui media bahwa hasil bisa dicapai tanpa proses. Dan kelak, jangan heran kalau sebagian dari mereka jadi calon koruptor, karena sejak di bangku sekolah sudah diberikan contoh moral yang salah, oleh seseorang yang seharusnya jadi panutan dan contoh bagi kehidupan nya.

Ingat: menjadi pemimpin itu tidak hanya sebatas mengatakan kebenaran dan kebaikan, tetapi juga melakukan kebaikan dan kebenaran yang menghasilkan kejujuran. Nilai yang lahir dari kepemimpinan yang jujur akan menular ke generasi berikutnya, bukan menjadi contoh skandal yang memalukan masyarakat dan bangsa."

Dan kasus ini ibarat gunung es. Yang tampak di permukaan sedikit, tapi bagian bawahnya? Masih mengancam dan siap menenggelamkan semuanya.


SMK Bergabung ke Provinsi: Siapa yang Dirugikan?

Sejak 2017, SMK dan SMA ‘dipaksa’ diambil alih oleh provinsi. Sejak itu, keresahan para guru tidak lagi sekadar bisik-bisik; tunjangan yang seharusnya mereka terima dari kabupaten atau kota hilang begitu saja. SMK dan SMA berada di bawah provinsi, tetapi kompensasinya masih ngambang tak menentu. Banyak guru memilih diam, tak berani protes. Apakah karena takut, ataukah sudah lelah dan pasrah menghadapi sistem yang jelas-jelas tidak memihak ini?

Kini saatnya mendorong koreksi kebijakan: kembalikan SMK ke kabupaten, atau perbaiki sistem provinsi dan pulihkan hak-hak guru yang dirampas. Bayangkan, ratusan milyar yang semestinya menjadi hak pendidik, jika tidak dikorupsi oleh segelintir pimpinan jahat, akan menjadi "prasasti" nyata bagi generasi berikutnya bahwa provinsi mampu mengayomi dan berpihak pada guru-bukan menjadi catatan memalukan yang akibatnya harus ditanggung masyarakat dan bangsa..

boleh di lihat : rasa-aman-yang-menipu-nasehat-untuk.html

aku bingung........sumpah bingung     

Jika pemimpin mempermainkan uang rakyat, siswa pun ikut terjebak mempermainkan angka yang disebut nilai. Nilai hanyalah angka; proses belajar disamakan dengan formalitas semata. Akibatnya, moral generasi pun ikut terseret arus. Kep an kita pun ikut terseret.

Maka, marilah kita dorong transparansi, tegakkan hak guru, dan ingatkan semua: pendidikan yang jujur lahir dari pemimpin yang jujur.

Pak J

Selasa, 09 September 2025

RASA AMAN YANG MENIPU

Ruang Ide, Sept 2025 Setiap manusia mendambakan rasa aman dan tenteram. Namun, pernahkah kita sadar bahwa rasa aman di dunia ini bisa saja menipu? Rasa aman yang membuat kita lengah, lalai, dan berani melanggar batas-batas yang Allah tetapkan.

Allah sudah mengingatkan dengan tegas dalam Al-Qur’an:

“(Yaitu) pada hari (kiamat) ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu’ara: 88–89)

Ayat ini menjadi tamparan keras bagi kita. Dunia dengan segala gemerlapnya sering membuat manusia merasa aman. Aman untuk bermaksiat, aman untuk meninggalkan sholat, aman menuruti hawa nafsu aman mengambil hak masyarakat, aman  mengkhianati amanat. Padahal, rasa aman seperti ini hanyalah tipuan sesaat yang akan berubah menjadi ketakutan mengerikan  di akhirat.

Sehat itu murah : Susu Kambing Probiotik

Rasa Aman yang Salah Kaprah

Banyak orang merasa aman karena masih diberi umur panjang, sehat, dan rezeki yang berlimpah. harta benda yang mengaggumkan, sertifikat tanah yang banyak dan berkuasa yang menggiurkan. Mereka lupa bahwa semua itu bukan jaminan keselamatan di hadapan Allah. Justru sering kali nikmat itu menjadi ujian: apakah kita bersyukur atau justru semakin berani melanggar perintah-Nya?

Rasa aman inilah yang menjerumuskan. Ia membuat manusia silau dengan harta, jabatan, dan pujian. Ia menutup mata hati sehingga dosa dianggap biasa, maksiat dipandang sepele, dan akhirat dilupakan.

Baca ini :Guru impresif investasi negara yang terlupakan.

Sepuluh Saksi yang Tidak Pernah Lupa

Manusia boleh lalai, tetapi saksi-saksi amal tidak pernah tidur. Setiap langkah kita, sekecil apa pun, dicatat dengan teliti.

Sekurang-kurangnya ada sepuluh saksi yang akan bersuara di hadapan Allah:

  1. Telinga kita,yang mendengar.

  2. Mata kita,yang melihat.

  3. Lidah kita, yang berbicara.

  4. Tangan yang bergerak.

  5. Kaki yang melangkah.

  6. Hati yang menyimpan niat.

  7. Bumi yang diinjak.

  8. Malam yang kita lalui.

  9. Siang yang kita jalani.

  10. Para malaikat Raqib, Atid, dan Hafadzah yang mencatat tanpa pernah salah.

Semua ini akan menjadi saksi, apakah kita gunakan untuk taat atau durhaka.

Nasehat untuk Jiwa yang Lupa

Saudaraku, jangan pernah merasa aman ketika berbuat dosa. Jangan tertipu oleh kesehatan, usia muda, atau harta yang banyak. Semua itu bisa habis dalam sekejap. Dan ketika maut datang, kita hanya membawa amal, bukan  kekayaan, kekuasaan dan jabatan. apalagi gelar. gelar kita yang terakhir lah yang kita bawa, yakni "al marhum"

Rasa aman yang sejati hanyalah bagi mereka yang berusaha menjaga hati tetap bersih, yang tunduk pada perintah Allah, yang menahan diri dari larangan-Nya, serta yang sadar bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara.

Mari kita periksa hati kita masing-masing. Sudahkah kita benar-benar takut kepada Allah? Ataukah kita masih merasa aman untuk bermaksiat? aman untuk tidak berbuat adil. dan merasa aman berbuat curang, gosok sana geser sini untuk "jabatan dunia" ini

Ingatlah, rasa aman di dunia bisa berbalik menjadi ketakutan di akhirat. Tapi rasa takut kepada Allah di dunia justru akan berubah menjadi ketenteraman abadi di akhirat.


Semoga tulisan singkat ini menjadi pengingat bagi  saya kususnya, dan bagi kita semua pada umumnya. Jangan biarkan hati kita tertipu oleh rasa aman yang palsu. Mari kita jaga iman, bersihkan hati, keadilan diri dan kembalikan seluruh langkah kita hanya untuk Allah.

Waalloh a'lam bishowab

Tulisan ini untuk pengingat diriku sendiri. bukan orang lain.

Sabtu, 06 September 2025

GURU IMPRESIF INVESTASI NEGARA YANG AKAN MENDUNIA

 Nganjuk,7 September 2025.

Ingin sehat dengan cara murahSUSU Kambing  probiotik HED GOAT

A
da satu hal sederhana tapi "sering terlewat" dari Masyarakat: murid tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tapi juga dari bagaimana seorang guru hadir. Kehadiran yang biasa-biasa saja mungkin cukup untuk mengisi waktu belajar, tapi tidak akan pernah cukup untuk menyalakan api di dada anak-anak. Di sinilah bedanya guru biasa dengan guru impresif.

Guru impresif tidak sekadar menyampaikan materi, melainkan meninggalkan kesan. Ia seperti jejak yang tak mudah hilang, bahkan ketika murid sudah melangkah jauh di masyarakat.

Dan menariknya, manfaat itu tidak berhenti pada murid semata. Lingkarannya lebih luas, menjangkau diri guru, lembaga, bahkan masyarakat.

Baca jua : mengajar hanya pekerjaan mendidik.html

Manfaat nya :
Bagi Diri Guru

Guru yang impresif merasakan sesuatu yang sering hilang dari rutinitas: makna. Mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan perjalanan untuk tumbuh bersama murid. Dari sana lahir kepuasan batin, kepercayaan diri, dan keinginan untuk terus belajar. Guru menemukan bahwa profesinya bukan sekadar kewajiban, melainkan kesempatan untuk dikenang.

Bagi Murid

Murid yang bertemu guru impresif ibarat menemukan pintu ke dunia baru. Semangat belajar mereka tumbuh, rasa ingin tahu tak pernah padam, dan nilai bukan lagi sekadar angka, tapi perjalanan membentuk jati diri. Guru impresif menjadi kompas yang mengarahkan langkah tanpa harus memaksa.

Bagi Lembaga

Sebuah lembaga pendidikan yang memiliki guru impresif akan berbeda auranya. Nama baiknya terangkat, suasana belajarnya hidup, dan kepercayaan masyarakat semakin kuat. Lembaga itu bukan hanya tempat menimba ilmu, melainkan ruang yang melahirkan kebanggaan bersama. Guru impresif membuat sekolah tidak sekadar berdiri secara fisik, tapi berdiri secara martabat.


Baca Jua : Ketika ilmu menjadi jalan mengenal Dia.

Bagi Masyarakat

Ketika murid tumbuh dengan inspirasi, maka masyarakat pun merasakan hasilnya. Anak-anak kembali sebagai pribadi yang siap berkarya, membawa nilai-nilai yang telah mereka serap. Guru impresif pada akhirnya tidak hanya mendidik murid, tapi juga menyiapkan wajah baru masyarakat.

Guru impresif ibarat mata air. Dari dirinya, mengalir manfaat bagi banyak pihak: diri sendiri, murid, lembaga, dan masyarakat. Dan setiap tetes yang mengalir itu pada akhirnya bermuara pada satu hal: perubahan.

Dari Pintu Ruang Kelas Menuju Perubahan Sejati

Ruang kelas selalu sederhana. Sebuah pintu yang setiap pagi dibuka, deretan bangku, papan tulis, dan suara riuh yang khas. Dari luar mungkin terlihat biasa, tapi di balik pintu itu, sesuatu yang besar selalu terjadi.

Di sanalah sebuah perjalanan dimulai. Perjalanan yang tidak hanya melibatkan murid, tapi juga guru, lembaga, dan masyarakat. Ruang kelas hanyalah titik awal-sebuah pintu masuk menuju perubahan sejati.

Saat Guru Menyalakan Api

Guru impresif tahu, murid tidak cukup diberi buku dan soal. Mereka butuh percikan api yang menyalakan semangat. Setiap kata yang lahir, setiap tatapan yang meneguhkan, menjadi percikan yang mengubah suasana kelas. Dari suasana itulah lahir murid yang berani bertanya, berani mencoba, dan berani gagal.

Api kecil itu menyala, menular, lalu menjadi obor yang terus mereka bawa ke luar kelas.

Lembaga yang Berdenyut Hidup

Ketika kelas penuh cahaya, lembaga pun ikut berdenyut hidup. Suasananya berbeda. Dinding sekolah tidak lagi sekadar bangunan, melainkan saksi dari semangat yang tumbuh. Reputasi lembaga terangkat bukan karena brosur atau papan nama, tetapi karena cerita-cerita kecil yang dibawa pulang murid ke rumah mereka.

Lembaga pendidikan yang memiliki guru impresif tidak hanya menampung anak-anak, tetapi melahirkan kebanggaan dan kepercayaan.

Masyarakat yang Merasakan Buahnya

guru dan pemimpin impresif
Dari pintu ruang kelas, cahaya itu keluar. Murid yang tumbuh dengan inspirasi menjadi pribadi yang berbeda di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya pandai, tetapi juga berkarakter. Masyarakat merasakannya: ada generasi baru yang siap bekerja, siap memimpin, dan siap menjaga nilai-nilai.

Guru impresif tidak pernah sendirian. Apa yang ia tanam di kelas menjadi pohon rindang yang buahnya dinikmati masyarakat luas.

Perubahan Sejati

Perubahan sejati tidak pernah datang tiba-tiba. Ia lahir dari hal-hal kecil di ruang kelas: sapaan pagi, dorongan untuk berani, teladan yang diam-diam dicontoh murid. Dari sana perjalanan panjang itu dimulai, berjalan melewati guru, lembaga, hingga masyarakat.

Dan semua itu bermula dari satu pintu kelas yang sederhana.

Benih yang Tumbuh

Setiap ruang kelas adalah ladang. Guru impresif menanam benihnya lewat kata-kata, sikap, dan keteladanan. Benih itu kecil, bahkan kadang tak terlihat. Tapi ia jatuh tepat di tanah hati murid yang siap menerima.

Awalnya, tidak ada yang berubah. Murid masih bermain, masih gaduh, masih penuh tanda tanya. Tapi perlahan, sesuatu bergerak di dalam diri mereka. Benih itu mulai tumbuh—kadang dalam bentuk keberanian untuk mengangkat tangan, kadang dalam tekad untuk menyelesaikan tugas, kadang dalam rasa malu jika lalai.

Guru impresif tahu, hasilnya tidak instan. Benih butuh waktu, butuh pupuk kesabaran, butuh siraman doa. Dan setiap hari di ruang kelas, benih itu dirawat dengan telaten.

Dari Kelas ke Lembaga

Ketika benih itu tumbuh di hati murid, lembaga pun ikut menuai hasilnya. Suasana belajar berubah: dari sekadar rutinitas menjadi pengalaman yang hidup. Dinding sekolah yang dulu sunyi kini dipenuhi gema tawa, semangat, dan keberanian murid untuk bermimpi.

Lembaga yang tadinya hanya tampak sebagai bangunan, kini hidup sebagai rumah kedua. Tempat di mana anak-anak merasa aman, diterima, dan dihargai. Semua itu terjadi karena ada guru impresif yang menanam dengan hati.

Dari Lembaga ke Masyarakat

Benih yang tumbuh di ruang kelas tidak berhenti di sana. Ia ikut dibawa pulang, menular pada keluarga, dan akhirnya terasa di masyarakat. Orang tua melihat perubahan sikap anak mereka, tetangga merasakan dampak dari generasi yang lebih peduli, dan perlahan, masyarakat menjadi ladang yang subur pula.

Masyarakat mulai menyadari: perubahan besar ternyata lahir dari benih kecil yang ditanam di ruang kelas sederhana.

Apa yang tumbuh dari benih itu tidak mudah hilang. Murid mungkin akan beranjak dewasa, melewati banyak jalan, bahkan melupakan sebagian pelajaran di buku. Tapi mereka jarang melupakan bagaimana mereka pernah disemangati, dimotivasi, dan diyakinkan oleh gurunya.

Jejak yang Menggema

Setiap kisah punya akhirnya, tapi jejak guru impresif tidak pernah benar-benar selesai. Apa yang mereka tanam di ruang kelas akan terus berjalan, melewati lembaga, merasuk ke masyarakat, dan akhirnya kembali lagi sebagai gema perubahan.

Ruang kelas mungkin sederhana. Hanya ada papan tulis, kursi kayu, dan pintu yang dibuka setiap pagi. Tapi di balik kesederhanaan itu, lahirlah benih-benih masa depan. Murid yang berani bermimpi, lembaga yang berwibawa, masyarakat yang berdaya-semuanya berawal dari sana.

Dan guru impresif? Ia bukan hanya bagian dari perjalanan, tapi fondasi yang membuat perjalanan itu ada.

Maka, ketika pintu kelas ditutup setiap sore, sejatinya perjalanan itu baru saja dimulai. Perjalanan menuju perubahan sejati, yang tidak pernah berakhir.

Pak J