Selasa, 15 September 2026

PERGANTIAN MENTERI : MUSIBAH ATAU BERKAH

 

INIKAH CARA ALLOH MENYELAMATKAN NYA

Pergantian seorang menteri selalu mengundang pertanyaan. Apalagi jika pergantian itu terjadi secara tiba-tiba, saat sang menteri masih tampil di hadapan lembaga negara.

14 September 2026, Pak Purbaya Yudhi Sadewa diberhentikan dari jabatan Menteri Keuangan dan digantikan oleh Pak Suahasil Nazara. Pak Purbaya bahkan sedang mengikuti rapat bersama DPD RI mengenai APBN ketika ia menerima telepon. Tidak lama setelah itu, pergantian tersebut diumumkan.

Mengapa?

Sampai saat ini, alasan resmi yang secara spesifik acara pencopotan Pak Purbaya dengan satu masalah tertentu belum terbuka kepada publik. Oleh karena itu, terlalu dini jika kami mengatakan bahwa masalah MBG, pengadaan motor listrik, atau gaya komunikasi  Pak Purbaya adalah penyebab perubahannya. Tetapi ada rangkaian peristiwa yang menarik untuk direnungkan.

Ketika Pak Menteri berkata, "Saya kecele"

Juni 2026, Pak Purbaya berbicara mengenai pengadaan motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengatakan bahwa pengadaan tersebut sebelumnya telah ditolak, tetapi kemudian pembelian tetap terjadi. Dalam penjelasannya, ia bahkan menggunakan istilah yang sangat sederhana: "kecele".

Menurut pemberitaan yang mengutip pernyataan Pak Purbaya, pengadaan tersebut kemudian menjadi bagian dari masalah tata kelola MBG yang sedang ditangani aparat penegak hukum. Pak Purbaya mengatakan pihak-pihak di Kementerian Keuangan yang terkait dengan lolosnya anggaran tersebut telah ditindak.

Di sini ada sesuatu yang menarik.

Sebagai pejabat publik, Pak Purbaya berada pada posisi yang tidak mudah. Ia tidak hanya bertanggung jawab terhadap angka APBN, tetapi juga terhadap sistem yang membuat setiap rupiah negara harus memiliki pertanggungjawaban.

Oleh karena itu, ketika ia mengatakan "kecele", kalimat tersebut dapat dibaca bukan semata-mata sebagai ucapan spontan seorang pejabat, tetapi juga sebagai pengakuan bahwa sebuah sistem pengawasan dapat memiliki celah.

Dan ternyata persoalan itu tidak berhenti di sana.

Pada Agustus 2026,  Pak Purbaya kembali mengungkap bahwa hasil pengawasan lapangan menemukan banyak kekurangan dalam proses pertanggungjawaban keuangan MBG di daerah. Temuan tersebut, menurut penjelasannya, akan disampaikan kepada Badan Gizi Nasional untuk ditindaklanjuti.

Artinya, yang disampaikan Pak Purbaya bukan sekadar kritik terhadap MBG sebagai sebuah gagasan. Ia berbicara tentang tata kelola uang negara .

Dan itu memang bagian dari tugas seorang Menteri Keuangan.

Apakah MBG yang menjadi pemicu?


Pertanyaan ini wajar muncul setelah pergantian terjadi. 
Apakah masalah motor listrik MBG menjadi pemicu?Apakah keterbukaan Pak Purbaya mengenai kelemahan pertanggungjawaban keuangan MBG menjadi salah satu faktor?

Ataukah ada persoalan lain yang tidak diketahui masyarakat?

Jawabannya masih samar antara iya dan tidak kata lain nya belum jelas betul apa penyebabnya.

Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati. Fakta bahwa beberapa pernyataan Pak Purbaya tentang MBG muncul sebelum pergantian tidak otomatis membuktikan adanya hubungan-akibat.

Justru di sisi ini pentingnya kita membedakan urutan peristiwa dengan penyebab peristiwa .

Yang kita ketahui adalah Pak Purbaya mengungkap persoalan dalam pengelolaan anggaran MBG. Yang juga kita ketahui adalah ia kemudian digantikan. Tetapi apakah yang pertama menyebabkan yang kedua, belum ada bukti publik yang cukup untuk menyatakannya.

 Dan mungkin, pertanyaan yang lebih menarik bukan hanya pada:

kenapa Pak Purbaya dicopot?” Melainkan:

“Apa yang mungkin sedang Allah persiapkan setelah seseorang keluar dari sebuah jabatan?”

Tidak semua kehilangan itu adalah musibah

Dalam kehidupan manusia, kita sering menggunakan ukuran yang sangat sederhana dalam menilai suatu peristiwa..

Mendapat jabatan berarti keberuntungan. Jika Kehilangan jabatan berarti kemunduran. Kalua Naik berarti keberhasilan. Saat Turun berarti gagal.

Padahal hidup ini tidak menjanjikan hal-hal yang menjanjikan itu.

Ada orang yang memperoleh jabatan, tetapi justru mereka kehilangan ketenangan. Hidupnya merasa tidak aman Seolah-olah setiap langkahnya adalah ancaman yang fatal.

Ada yang kehilangan jabatannya, namun kemudian memperoleh kesempatan yang jauh lebih luas untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.

Ada pula seseorang yang merasa dirinya sedang kehilangan sesuatu, padahal sebenarnya dia sedang menjauh dari sesuatu yang belum dia ketahui.

Oleh karena itu, pergantian Pak Purbaya tidak harus dibaca sebagai musikbah bagi dirinya. Bisa jadi kita sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian kursi jabatan menteri.

Bahkan sangat bisa jadi Allah sedang menyelamatkannya dari sebuah permasalahan yang belum terlihat saat ini. Atau bisa jadi Allah sedang memindahkannya dari sebuah ruang yang penuh risiko menuju ruang lain yang lebih sesuai dengan gagasan, pengalaman, dan kapasitasnya pak purbaya.

Atau mungkin juga, tanpa kita ketahui, Allah sedang menyiapkan panggung lain untuk dirinya.

Dalam kehidupan ini kita tentu tidak boleh begitu saja menuntut kehendak Allah. Itu wilayah yang tidak dapat dijangkau manusia.

Tetapi sebagai orang beriman, kita dapat mengambil pelajaran:

Tidak semua yang kita anggap kehilangan benar-benar merupakan kehilangan.

 Bisa Jadi di luar kementerian ia lebih bebas berpikir

CALON WAKIL PRESIDEN 
Ada satu kemungkinan lain yang menarik.

Seorang Menteri Keuangan bekerja dalam sebuah sistem pemerintahan. Ia memiliki kewenangan, tetapi sekaligus memiliki batas. Ia membawa visi dan gagasan, namun gagasan tersebut harus berhadapan dengan kepentingan politik, koordinasi antarlembaga, aturan birokrasi, serta keputusan kolektif pemerintah.

Dengan demikian, menjadi menteri tidak otomatis berarti seseorang mempunyai ruang tak terbatas untuk menjalankan seluruh gagasannya.

Kadang-kadang seseorang justru baru dapat mengembangkan pemikirannya secara lebih luas setelah keluar dari sebuah jabatan atau sistem yang ada.

Ia dapat menulis.

Ia dapat mengajar.

Ia dapat melakukan riset.

Ia dapat memberikan kritik secara lebih independen.

Mampu pula ia membangun gagasan kebijakan.

Bahkan mungkin ia dapat menawarkan konsep ekonomi yang selama berada di dalam pemerintahan harus berkompromi dengan begitu banyak kepentingan.

Maka, boleh jadi ada fase kehidupan ketika jabatannya bukan lagi kendaraan utama untuk berbuat besar .

Kadang-kadang seseorang harus turun dari kendaraan itu terlebih dahulu agar dapat berjalan ke arah lorong yang lebih kecil. Atau menatap luasnya cakarawala yang penuh pelangi. Karena dengan turun itulah ia dapat melihat dengan terang blankspot yang saat terjadi tidak ia lihat dengan jelas.

Jabatan hanyalah ruang pengabdian

Pada akhirnya, jabatannya hanyalah sebuah ruang. Hari ini seseorang berada di dalamnya. Besok orang lain menggantikannya. Begitulah pemerintahan berjalan.

Pak Purbaya pernah menduduki posisi Menteri Keuangan. Kini posisi tersebut diisi Pak Suahasil Nazara. Presiden memberikan arahan kepada menteri baru untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas negara.

Tetapi nilai seorang manusia tidak pernah menduduki jabatannya.

Yang menentukan bukan berapa lama seseorang duduk di sebuah kursi, melainkan apa yang ia lakukan ketika berada di sana dan apa yang ia lakukan setelah meninggalkan kursi tersebut.

Oleh karena itu, barangkali kita tidak perlu terburu-buru menyebut pergantian Pak Purbaya sebagai kemenangan atau kekalahan siapa pun. Kita belum mengetahui keseluruhan cerita. Kita belum mengetahui seluruh pertimbangannya.

Dan kita belum mengetahui ke mana perjalanan berikutnya akan membawanya.

Yang jelas, ada satu pelajaran yang jauh lebih universal.

Kehidupan tidak selalu mengikuti kalkulasi manusia.

Apa yang hari ini terlihat seperti kehilangan, bisa saja besok menjadi jalan keselamatan.

Apa yang hari ini terasa seperti menutup pintu, bisa saja ternyata merupakan cara Allah membuka pintu yang lain yang lebih indah.

Dan mungkin, bagi  Pak Purbaya, pertanyaan terbesarnya sekarang bukan lagi:

"Mengapa saya kehilangan jabatan Menteri Keuangan?"

Tetapi:

"Untuk apa Allah mengeluarkanku Pak Purbaya dari ruangan itu?"

Sebab manusia hanya melihat pintu yang tertutup.

Sedangkan Allah mengetahui jalan yang berada di balik pintu berikutnya.bahkan tempat kosong yang tidak pernah kita pikirkan.

Maka, jika benar pergantian itu tidak disebabkan oleh satu persoalan yang selama ini ramai diperbincangkan, biarlah waktu yang menjelaskannya.

Jika ternyata diketahui ada persoalan yang lebih besar yang belum dipublikasikan, biarlah fakta yang menguak nya

Dan jika pergantian itu justru menjadi jalan bagi Pak Purbaya untuk mengembangkan gagasan-gagasan besarnya di ruang yang lebih luas, maka mungkin suatu hari nanti kita akan melihat bahwa kehilangan sebuah jabatan ternyata bukan akhir dari sebuah pengabdian. Bisa jadi justru awal dari babak yang baru.


Pak J

Guru Senior Sejarah SMK di Jawa Timur

 

Kamis, 15 Januari 2026

KENAPA HIDUP ANAK MUDA TERASA MAKIN KACAU

Ku Persembahan tulisan ini untuk Gen Z:
yang sedang kuat-kuatnya diuji arah hidupnya.

Kenapa hidup anak muda terasa makin kacau?
Bukan karena kurang potensi, tapi karena hidup dijalani tanpa atensi (perhatian diri).
Tidur larut dianggap biasa, bangun siang terasa wajar.
Waktu dibiarkan bocor, lalu heran mengapa hidup terasa tak tersohor.

HP dijaga seperti nyawa kedua.
Baterainya tak boleh habis, sinyal tak boleh putus.Kopi Dikejar, Sholat Ditawar
Tapi arah hidup?
Sering kosong, seolah masa depan bisa menunggu kapan saja bahkan sampai gosong.

Sholat diabaikan,
Warung kopi hadir seperti kewajiban.
Adzan terdengar, tapi seperti sesuatu yang ambyar..
Ajakan nongkrong datang, langsung disambar.
Yang memanggil dari langit sering kalah
oleh obrolan kopi yang tak pernah menyelesaikan masalah.

Padahal Isra’ Mi‘raj adalah kisah tentang disiplin jiwa.
Tentang manusia yang dimuliakan karena taatnya,
tentang sholat yang diturunkan bukan untuk memberatkan,
melainkan  menata hidup untuk di tingkatkan, agar tidak liar dan kehilangan arah.

Gen Z ini generasi yang rajin mengisi paketan ponsel,
namun sering lupa mengisi jiwa.
Disiplin dianggap kuno,
menunda jadi gaya hidup,
hiburan naik kelas menjadi tujuan.

Jangan salah paham.
Ini bukan santai, ini lalai.
Santai itu sadar dan terkendali,
lalai itu hidup tanpa rem dan tanpa tujuan diri.

Tubuh jarang dilatih,
mental pun mudah Ringkih
Sedikit tekanan sudah menyerah,
sedikit masalah merasa hidup paling berat.
Fisik diabaikan,
jiwa pun kehilangan ketangguhan.

Hari-hari berjalan tanpa pola.
Bangun bukan untuk tujuan,
tapi sekadar mengulang kebiasaan.
Lalu heran dan bertanya,
“Kenapa hidupku stagnan?”

Isra’ Mi‘raj mengajarkan satu hal yang sering dilupakan:
hidup harus punya poros.
Dan poros itu bernama sholat.
Ketika hubungan dengan Tuhan longgar,
hubungan dengan diri sendiri ikut berantakan dan ambyar.

Ini bukan soal menjadi sempurna.
Ini soal berani memulai.
Menegakkan sembahyang (sholat) sebelum menuntut ketenangan,
merapikan jam hidup sebelum menyalahkan keadaan,
melatih disiplin sebelum bermimpi besar dan menawan.

Karena masa depan tidak lahir dari scroll tanpa ujung,
bukan dari nongkrong yang berharap di sanjung,
melainkan dari kebiasaan kecil
yang dilakukan dengan sadar dan konsisten.

Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peringatan sejarah.
Ia adalah panggilan untuk kembali pulang.
Dari lalai menuju sadar, dan peduli
dari kosong menuju bermakna.


Langit sudah memberi undangan.
Pertanyaannya tinggal satu:
kita masih mau menunda, atau mulai menjawabnya?


Senin, 12 Januari 2026

KETIKA NEGARA PILIH KASIH DALAM MENG-UPGRADE GURU SMK

 

Ada yang janggal dalam cara negara memperlakukan guru-guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Janggal, namun seperti dianggap wajar. Janggal, tetapi nyaris tak pernah dibicarakan secara terbuka.

SMK berada di bawah naungan BBPPMPV, sementara urusan peningkatan kompetensi guru secara umum seharusnya juga menjadi wilayah BBGTK. Namun dalam praktiknya, program upskilling dan reskilling seolah hanya dimaknai sempit: hanya untuk guru produktif. Selebihnya? Guru normatif dan adaptif tampak diletakkan di pinggir meja kebijakan.

Ironisnya, ketika ada inisiatif peningkatan kapasitas untuk guru normatif-adaptif SMK, justru muncul protes kelembagaan. Seolah-olah peningkatan kompetensi guru sejarah, bahasa Indonesia, matematika, PPKn, atau agama di SMK adalah sesuatu yang “tidak perlu”, atau bahkan “menyimpang dari garis”.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar:
Apakah hanya guru produktif yang perlu di-upgrade?
Apakah guru normatif dan adaptif dianggap sudah sempurna, atau justru tidak penting?

Jika logika kebijakan ini diteruskan, jangan salahkan publik, bila muncul pertanyaan yang lebih keras: sekalian saja hapus mata pelajaran normatif-adaptif di SMK. Karena dalam praktik kebijakan, mereka memang diperlakukan seperti pelengkap, bukan fondasi.

Padahal, guru produktif tidak bekerja di ruang hampa. Kompetensi kejuruan siswa tidak akan tumbuh sehat tanpa kemampuan berpikir kritis, literasi sejarah, logika matematis, etika kewargaan, dan kepekaan sosial—semua itu dibangun oleh guru normatif dan adaptif.

Apa jadinya lulusan SMK yang sangat terampil secara teknis, tetapi gagap membaca realitas sosial?
Apa artinya sertifikasi industri, jika cara berpikir masih sempit, mudah terprovokasi, dan miskin nalar kebangsaan?

Negara tampak terlalu sibuk mengejar link and match, hingga lupa bahwa pendidikan bukan sekadar soal kecocokan dengan industri, tetapi juga pembentukan manusia utuh. Upskilling yang hanya menyasar guru produktif adalah kebijakan efisien di atas kertas, tetapi cacat secara filosofi pendidikan.

Lebih aneh lagi, ketika antar-unit di bawah kementerian saling berhadap-hadapan, bukannya berkolaborasi. BBPPMPV dan BBGTK semestinya berjalan beriringan, bukan saling mengklaim wilayah, apalagi memprotes upaya peningkatan mutu guru yang jelas-jelas dibutuhkan.

Di titik ini, kritik perlu disampaikan dengan jujur dan terbuka:
kebijakan upskilling dan reskilling guru SMK hari ini masih setengah hati.
Ia tampak progresif di permukaan, tetapi timpang dalam pelaksanaan.

Guru normatif dan adaptif bukan beban. Mereka adalah penyangga logika, etika, dan arah berpikir siswa SMK. Mengabaikan mereka sama saja dengan membangun gedung megah di atas pondasi rapuh.

Pemerintah perlu berhenti berpikir sektoral dan mulai melihat pendidikan secara utuh. Jika tidak, maka yang dihasilkan bukan generasi siap kerja, melainkan generasi terampil namun kehilangan arah.

Dan itu, jauh lebih berbahaya daripada sekadar kekurangan tenaga terampil.