![]() |
| PURNA TUGAS |
D i setiap lembar kalender yang kita balik, ada waktu diam-diam berjalan tanpa pernah kompromi. Kita yang hari ini berdiri di depan kelas, menggenggam spidol, menata masa depan anak-anak orang lain dengan penuh rasa tanggung jawab, sering kali lupa bahwa kita sedang berjalan menuju satu titik yang pasti: purna tugas. Tidak peduli seberapa hebat kita mengajar, seberapa tulus kita merawat harapan siswa, atau seberapa besar dedikasi yang kita curahkan untuk lembaga ini, pintu pensiun itu akan tetap terbuka dan menyambut kita.
Namun, ada kenyataan sunyi yang jarang kita bicarakan, terutama bagi para pendiri sekolah swasta.
Bagi seorang guru swasta, hari pensiun sesungguhnya adalah sebuah kado ulang tahun yang teramat sunyi di usia ke-60. Sebuah momen yang seharusnya disambut dengan gempita, namun justru menjadi awal dari redupnya banyak hal. Tidak ada uang pensiun bulanan yang akan menopang hari tua. Di hari itu, riuh tepuk tangan perlahan hilang, piagam dianugerahi disimpan di sudut lemari yang berdebu, dan penghasilan yang selama puluhan tahun menopang hidup resmi terhenti.
Ingatkah kita saat masih kecil dulu? Hari ulang tahun adalah hari yang paling dinanti, penuh dengan gelak tawa, balon, dan kue manis. Namun di usia ke-60 ini, bagi seorang guru yang menjalankan tugas, ulang tahun itu berubah wajah. Tidak ada lagi ucapan selamat yang riuh, kecuali sebaris kalimat santun dari orang-orang sekitar: "Semoga bisa menikmati hari tua dengan bahagia."
Kalimat yang terdengar indah, namun terasa begitu menghujam di dalam dada.
Bagaimana bisa menikmati hari tua dengan tenang, ketika di saat yang sama kesehatan fisik mulai menurun, tabungan kian menipis, dan rasa sepi mulai masuk? Hari yang harusnya dirayakan dengan suka cita justru menjadi pintu gerbang menuju sunyi yang tiada tara. Sunyi yang memaksa mereka duduk di teras rumah, menatap halaman kosong, sambil mengenang kembali masa-masa ketika suara mereka masih menggema di koridor sekolah. Masa-masa indah saat mereka masih merasa dibutuhkan, saat senyum dan sapaan para siswa menjadi obat paling ampuh atas segala lelah.
Kita yang hari ini masih beraktivitas, masih memegang ruang kelas, sejatinya hanya sedang menunggu giliran. Kita semua sedang berjalan menuju jalan yang sama—jalan sunyi yang lebih dulu dilalui oleh para senior kita.
Jika hari ini kita melihat seorang guru purna tugas tersenyum di hari terakhirnya melangkah keluar dari gerbang sekolah, lihatlah lebih dekat mata itu. Di balik senyum bijaknya, ada warisan atas jejak pengabdian yang tertinggal, tetapi juga ada keraguan dan rasa cemas yang teramat dalam tentang bagaimana esok hari harus dijalani.
Sebab pensiun bagi mereka bukan sekadar akhir dari sebuah pekerjaan, melainkan awal dari perjuangan baru dalam kesendirian, memeluk kenangan indah masa lalu di tengah senyapnya hari tua.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar