Ku Persembahan tulisan ini untuk Gen Z:
yang sedang kuat-kuatnya diuji arah hidupnya.
Kenapa hidup anak muda terasa makin kacau?
Bukan karena kurang potensi, tapi karena hidup dijalani tanpa atensi (perhatian diri).
Tidur larut dianggap biasa, bangun siang terasa wajar.
Waktu dibiarkan bocor, lalu heran mengapa hidup terasa tak tersohor.
HP dijaga seperti nyawa kedua.
Baterainya tak boleh habis, sinyal tak boleh putus.Kopi Dikejar, Sholat Ditawar
Tapi arah hidup?
Sering kosong, seolah masa depan bisa menunggu kapan saja bahkan sampai gosong.
Sholat diabaikan,
Warung kopi hadir seperti kewajiban.
Adzan terdengar, tapi seperti sesuatu yang ambyar..
Ajakan nongkrong datang, langsung disambar.
Yang memanggil dari langit sering kalah
oleh obrolan kopi yang tak pernah menyelesaikan masalah.
Padahal Isra’ Mi‘raj adalah kisah tentang disiplin jiwa.
Tentang manusia yang dimuliakan karena taatnya,
tentang sholat yang diturunkan bukan untuk memberatkan,
melainkan menata hidup untuk di tingkatkan, agar tidak liar dan kehilangan arah.
Gen Z ini generasi yang rajin mengisi paketan ponsel,
namun sering lupa mengisi jiwa.
Disiplin dianggap kuno,
menunda jadi gaya hidup,
hiburan naik kelas menjadi tujuan.
Jangan salah paham.
Ini bukan santai, ini lalai.
Santai itu sadar dan terkendali,
lalai itu hidup tanpa rem dan tanpa tujuan diri.
Tubuh jarang dilatih,
mental pun mudah Ringkih
Sedikit tekanan sudah menyerah,
sedikit masalah merasa hidup paling berat.
Fisik diabaikan,
jiwa pun kehilangan ketangguhan.
Hari-hari berjalan tanpa pola.
Bangun bukan untuk tujuan,
tapi sekadar mengulang kebiasaan.
Lalu heran dan bertanya,
“Kenapa hidupku stagnan?”
Isra’ Mi‘raj mengajarkan satu hal yang sering dilupakan:
hidup harus punya poros.
Dan poros itu bernama sholat.
Ketika hubungan dengan Tuhan longgar,
hubungan dengan diri sendiri ikut berantakan dan ambyar.
Ini bukan soal menjadi sempurna.
Ini soal berani memulai.
Menegakkan sembahyang (sholat) sebelum menuntut ketenangan,
merapikan jam hidup sebelum menyalahkan keadaan,
melatih disiplin sebelum bermimpi besar dan menawan.
Karena masa depan tidak lahir dari scroll tanpa ujung,
bukan dari nongkrong yang berharap di sanjung,
melainkan dari kebiasaan kecil
yang dilakukan dengan sadar dan konsisten.
Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peringatan sejarah.
Ia adalah panggilan untuk kembali pulang.
Dari lalai menuju sadar, dan peduli
dari kosong menuju bermakna.
Langit sudah memberi undangan.
Pertanyaannya tinggal satu:
kita masih mau menunda, atau mulai menjawabnya?